Selasa, 08 Mei 2012

Telaah Lah

Ada mahasiswi asal Jambi yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tak diketahui jejaknya, dan belakangan ketahuan kalo dia ada di suatu tempat bersama kekasihnya asal Brebes. Pertemuan mereka, via Facebook. Oya, nggak ketinggalan kasus 4 orang siswa yang dipecat dari sekolahnya gara-gara menghina salah seorang guru mereka. Nah, mereka melakukan penghinaan tersebut di Facebook. Waduh!
Bro en Sis, deretan fakta terbaru untuk saat ini tentang sisi negatif Facebook perlu menjadi perhatian kita semua. Jangan sampe kejadian tersebut juga menimpa kita. Ih, nggak banget deh! Fakta ini pun sekaligus meyakinkan kita semua bahwa teknologi, tetap saja memiliki sisi positif sekaligus negatif. Kita perlu waspada deh kalo kenyataannya kayak gini sih.Fenomena Facebook
Facebook memang fenomenal! Situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini digilai oleh lebih dari 350 juta manusia di seluruh dunia. Di sini setiap orang bisa berkomunikasi, bergaul, berinteraksi, bahkan bertransaksi bisnis. Facebook menjadi dunia sendiri. Dunia yang dihuni oleh ratusan juta orang yang memang senang berhubungan dengan sesamanya. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Fasilitas yang diberikan Facebook memang tak tanggung-tanggung. Selain daftarnya free alias gratis, juga di dalamnya terdapat fasilitas standar yang dibutuhkan manusia dalam berkomunikasi di dunia maya. Facebook sudah menanam beragam fitur yang oke punya (setidaknya sampai saat ini). Ada “note” ini untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran kita. Catat sepuasnya di sana. Jika belum puas bahwa catatan kita akan dibaca banyak orang, kita bisa bikin grup. Facebook menjembatani upaya merengkuh banyak orang melalui sebuah grup.
Masih ingat kan tentang dukungan Facebookers (sebutan untuk jamaah facebookiyah alias orang-orang yang bergaul di dalam komunitas Facebook) terhadap KPK, khususnya Bibit dan Chandra? Juga menggalang dukungan bagi Prita dan Balqis. Melalui grup ini, pembuatnya bisa mengundang banyak orang untuk bergabung. Disediakan juga “Wall” tempat menumpahkan segala pendapat. Member grup bisa mengeluarkan unek-uneknya di sini. Kalo mau kirim pesan juga bisa. Menyebarkan pesan berharga kepada sebanyak orang itu, dan dengan fasilitas yang gratis, tentu sangat menyenangkan. Kita hanya membayar pulsa telepon atau bayar di warnet, bisa juga nebeng dari fasilitas kantor.
Selain bikin “grup” dan “note”, pengelola Facebook juga memahami betul keinginan manusia untuk interaksi, maka fasilitas chat disediakan, pencarian teman yang unik yang dilacak berdasarkan nama perusahaan, asal sekolah, asal daerah, dan sejenisnya. Selama member yang bersangkutan meng-input data yang sebenarnya, maka biarkan mesin pintar Facebook mencarikannya untuk kamu. Saya sering mengalaminya. Tiba-tiba muncul “saran teman” dari Facebook di beranda akun kita. Beberapa kali mengamati nama-nama yang muncul memori saya mengingatkan masa lalu. Hehehe.. ada teman yang pernah ngilang sejak lulus SMP sekitar 20 tahun yang lalu, eh ketemu lagi. Ada yang loss contact sejak beberapa tahun lalu, tiba-tiba nongol dan nyapa minta di-confirm jadi teman. Wah, asik benar.
Oya, pengguna Facebook tahu betul fitur-fitur yang ada di dalamnya. Termasuk fasilitas “status” kita yang selalu ‘ditanya’ “apa yang anda pikirkan?” Lalu kita jawab semau kita. Ada yang ngocol, ada yang asal tulis, ada yang protes, ada yang maki-maki, pengeluh, tukang ngasih motivasi, ada yang jualan, dan sebagainya. Di situ setiap orang yang sudah tergabung dengan orang tersebut bisa tahu update statusnya dan bisa ngasih komentar. Paling banter kalo malas ngasih komen, cukup ngasih “jempol” dengan meng-klik “like/suka” terhadap status temannya tersebut. Tapi, di sini kudu ati-ati lho, karena siapa tahu kamu malah jadi ngikutin jejak Evan Brimob yang bikin heboh karena komentarnya yang emosional menyikapi kasus KPK vs Polri. Hehehe… yang aktif di Facebook pasti tahu deh kasus detilnya. Iya nggak?
Bro en Sis, inilah Facebook, salah satu situs jejaring sosial yang ngetren saat ini. Saya punya pengalaman tentang hal ini. Seorang tetangga paman saya di Bandung, minta dibikinkan akun facebook saat saya browsing internet pas berkunjung ke sana dalam suatu acara. Meski dengan pengetahuan seadanya, ia nekat minta dibikinkan akun facebook. Ya, gimana nggak bisa disebut seadaanya, wong istilah e-mail saja dia masih bingung. Sami mawon dengan cara buat e-mail, dia nggak tahu. Padahal, untuk bisa daftar ke facebook kudu punya e-mail. Akhirnya, ya dibuatkan dulu e-mailnya. Lucunya, alasan yang bersangkutan pengen punya akun facebook biar bisa gaul. Nggak kuper lah. Hehehe.. padahal usia udah menjelang pensiun, anaknya udah ada yang kuliah. Tragisnya, pake komputer aja masih gagap. Tapi, dia nggak putus asa, karena Facebook bisa diakses via ponsel. Waduh, benar-benar sudah tergoda Facebook. Prikitiw!
Lain waktu, teman saya cerita bahwa supir mobil odong-odong minta dibikinkan akun Facebook. Oya, istilah odong-odong ini untuk angkutan umum yang kendaraannya udah nggak ada surat-suratnya, operasinya di jalur khusus giliran dengan tukang ojek. Biasanya ke dalam komplek perumahaan yang jauh dari jalan raya. Teman saya yang jaga warnet itu sempat bingung, tapi kemudian supir mobil odong-odong itu bilang bahwa nanti pakenya di ponsel. Wedeh, gaul juga nih supir mobil odong-odong!
Dunia maya lebih menggoda?
Sejak kenal dunia maya, saya penasaran banget. Kenapa penasaran? Karena bisa berhubungan dengan banyak orang di ‘seberang’ sana hanya melalui komputer yang terhubung dengan modem dan perangkat lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan internet. Meski komunikasi lebih banyak via tulisan, tapi rasanya asik-asik aja. Pertama kali diajari chatting, langsung nyetel dan betah berlama-lama. Apalagi ketika sudah kenal e-mail, wuih, makin anteng aja dah di depan komputer. Punya e-mail seperti punya alamat kotak pos sendiri. Urusan komunikasi jarak jauh lebih lancar terjalin. Meski tentu saja nggak interaktif. Tapi tetap asik. Lebih keren lagi ketika era web 2.0 yang ditandai dengan munculnya blog, maka komunikasi di dunia maya jadi lebih dinamis dan lebih variatif. Bahkan melalui blog yang dimilikinya, seorang blogger bisa menyampaikan pendapatnya tanpa perlu kena sensor pihak lain. Kecuali kalo diketahui melanggar term of service yang dibuat situs penyedia blog gratis tersebut, maka situs itu bakalan dibekukan.
Bro en Sis, dunia maya itu ibarat pasar. Apa aja ada. Mau yang gratis, harga murah, dan juga harga mahal. Semua bisa diatur dan ada. Konten atau isi situs yang halal, yang subhat, bahkan yang haram tersedia di sana. Tergantung kita, apakah akan memilihnya atau tidak. Semua berdasarkan pilihan dan tentu saja ada konsekuensinya atas pilihan tersebut. Dunia maya sama seperti halnya dunia nyata, ada yang buruk dan ada yang baik. Ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ada yang halal dan ada yang haram. Pornografi ada, judi ada, gosip bejibun, fitnah marak, motivasi kehidupan banyak, dan dakwah pun gencar. Kebaikan akan selalu berhadapan dengan keburukan. Kesalahan akan bertarung dengan kebenaran. Kelebihannya (sekaligus kekurangannya) di dunia maya, semua orang bisa jadi apa saja dan bisa jadi siapa saja. Phew!
Iya, karena meski di dunia nyata dan dunia maya bisa sama-sama berbohong, tapi di dunia maya kebohongan kita sulit dideteksi. Jika di dunia nyata orang tak mudah untuk mengelabui orang lain dengan penampilan beda jenis, tapi dunia maya hal itu bisa dilakukan. Kita hampir tidak pernah bisa melacak keberadaan seseorang apakah dia berjenis kelamin laki-laki atau wanita. Kita pun hampir tak pernah bisa mendeteksi apakah teman misterius itu baik atau jahat. Ya, di satu sisi, orang bisa ‘bersembunyi’ untuk menasihati orang lain, dan hal itu bisa menjadi kebaikan karena ingin ikhlas dalam beramal. Tapi di sisi lain, orang bisa ‘sembunyi’ untuk melakukan kemaksiatan, dan tentu bisa menjadi bahaya dan dosa bagi pelaku dan juga orang lain. Waspadalah!
Dunia maya memang lebih menggoda. Baik untuk hal yang bermanfaat maupun berbuat jahat. Sebenarnya sama dengan di dunia nyata. Orang bisa berbuat salah dan bisa berbuat baik. Namun, di dunia maya orang akan lebih ‘agresif’ karena halangan-halangan seperti minder, malu, segan, dan rasa inferior lainnya, bisa dikikis habis di balik topeng kepalsuan (jika mau). Percaya atau tidak, banyak yang sudah membuktikannya. Saya juga insya Allah banyak tahu bahwa ada orang yang lebih tampil percaya diri di dunia maya, padahal aslinya di dunia nyata dia orang yang agak minder. Well.. dunia maya memang lebih memberikan atmosfir rasa yang lain. Seringkali bisa ‘memanipulasi’ fakta yang sesungguhnya dan bisa juga menjadi pemicu orang untuk menunjukkan kemampuan terpendamnya (termasuk aksi jahatnya).
Namun demikian, dunia maya tetaplah dunia maya. Tak selamanya kita hidup di dunia tersebut. Emangnya kalo mau nikah bisa secara virtual? Hehe.. nanti anaknya virtual juga dong? Tetap saja kita akan lebih banyak berhubungan di dunia nyata. Meski dunia maya lebih menggoda, tapi waspadalah, kita tetap hidup bersama orang lain yang bisa saja mereka berbuat nggak benar kepada kita. So, sewajarnya sajalah. Jangan sampai lupa diri, lupa daratan, apalagi lupus alias lupa usia (umur udah bangkotan tapi kelakuan kayak bocah). Jangan juga mudah percaya sama orang yang belum kita kenal, apalagi awal mengenalnya via Facebook. Kalo diajak ketemuan, tolak saja. Nggak ada jaminan kan kalo dia bakalan baik sama kita? Terus, jangan memberikan informasi detil tentang diri kamu. Kita nggak tahu kan, kalo kita ternyata jadi sasaran kejahatan mereka? So, waspadalah![solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]
gaulislam edisi 122/tahun ke-3 (8 Rabiul Awal 1431 H/22 Februari 2010)
================================================================================================
Facebook Addict
O. Solihin
Gila kerja, meskipun hal itu berdampak kepada bertambahnya pendapatan, tetap saja ada yang dikorbankan. Salah satunya, waktu berharga bersama keluarga. Gila belajar, meskipun ada manfaatnya, namun tetap saja ada yang diabaikan. Salah satunya, kita menjadi pribadi yang hanya fokus kepada belajar, belajar, dan belajar. Padahal, ada waktu yang juga kita alokasikan untuk istirahat, berhubungan dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Gila belanja? Wah, itu berdampak tidak baik bagi diri kita, meskipun ada manfaat bagi para penjual produk karena produknya pasti laku kalo di dunia ini banyak orang yang gila belanja.
Ngomong-ngomong soal kecanduan, ternyata nggak cuma narkoba yang bisa bikin orang kecanduan. Seks bisa bikin orang kecanduan juga lho. Kalo itu dilakukan suami-istri sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika dilakukan bukan mahrom. Kita prihatin dengan seks bebas yang kian marak dilakukan remaja dan orang dewasa yang lemah iman tapi kuat nafsunya. Obat-obatan tertentu pun bisa bikin orang ketagihan untuk terus mengkonsumsi. Ada ketagihan yang lain nggak? Hehehe.. ada. Ya, salah satunya ketagihan untuk online. Sebelum ada situs jejaring sosial bernama Facebook, orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk chatting, untuk kumpul-kumpul di komunitas grup diskusi. Apalagi kalo udah berselancar nyari data. Bisa data yang bermanfaat, maupun data yang tidak bermanfaat. Situs porno pun jadi tempat mangkal netter yang ketagihan cerita dan gambar erotis. Belum lagi game online. Halah makin tekun deh tuh di depan komputer!
Maniak-online juga bisa membahayakan lho, meskipun ada manfaatnya. Ya, kalo seharian online, apa nggak bosen tuh? Facebook-an seharian apa nggak pegel? Kalo sampe kamu ngerasa kehilangan Facebook sehari aja, itu tandanya kamu sudah kecanduan. Uring-uringan kayak orang kebakaran kumis (bagi yang punya kumis tentunya), kalo yang nggak punya kumis, ya ibarat orang kebekaran bulu keteknya. Hihihi.. atau bisa juga ibarat yang punya pantat bisulan (apa hubungannya?). Ada, yakni nggak mau diem dan merasa paling menderita. Duduk nggak bisa, jalan pegel. Ngarang deh!
Bro en Sis, kalo sampe tiap hari kamu merasa kudu online terus di Facebook, waspadalah! Sebab, bisa jadi kamu mulai terkena gejala Facebook Addict alias kecanduan Facebook. Bawaannya liat hape pengennya langsung browsing dan yang terbayang di pikirannya logonya Facebook plus teman-teman dunia maya tempat ngumpul bareng secara virtual. Pengen tahu “status” terbaru teman-teman yang ada dalam list kita. Penasaran dengan apa yang dikerjakan mereka saat ini. Geregetan pengen nyapa, pengen cari informasi, pengen komentar, pengen ngasih “jempol” tanda suka dengan statusnya. Bener lho. Saya, pada awal-awal kenal Facebook, meski nggak sampe ‘gila’, tapi sering nongkrong di situs jejaring sosial. Cuma kalo saya tertantangnya pengen mengeksplorasi apa aja fitur dan fungsinya. Diulik (bukan diulek lho!) semua fitur yang ada. Satu per satu saya cobain dan praktikkan. Setelah merasa puas, barulah jarang buka-buka lagi. Toh, cuma “gitu-gitu” aja. Saya lebih memilih memfungsikan semaksimal mungkin fitur yang cocok untuk berbagi manfaat dengan teman lainnya. Kalo cuma update status mah hal yang gampang dan biasa. Hehehe.. bukan sok ya, tapi bagi saya nggak terlalu istimewa. Kecuali kalo update status isinya sensasional kayak yang pernah dilakukan Evan Brimob, baru dah tuh status jadi banyak dicari dan tentunya banyak dicaci-maki. Phew!
Yuk, kita kalkulasikan waktu yang kita korbankan untuk ngenet dan mangkal di Facebook dengan waktu kita di tempat lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, dalam sehari kita nongkrong di Facebook minimal 5 jam, itu udah parah lho. Berarti dalam sebulan waktu yang habis untuk ‘bermesraan’ dengan situs jejaring sosial ini adalah (150 jam, yakni 30 hari dikali 5 jam). Silakan hitung sendiri jika dikonversi dengan duit yang kudu dikeluarkan untuk beli pulsa telepon. Juga yang terpenting, soal memanfaatkan waktunya itu lho. Waktu 5 jam itu kalo dibagi-bagi buat istirahat, belajar, dan bekerja bisa sangat berharga.
Oya, waktu yang dipake 5 jam sehari untuk Facebook-an itu, baik waktu 5 jam itu secara berturut-turut atau memanfaatkan waktu di sela-sela aktivitas lain, tetap aja ada waktu yang secara khusus dialokasikan untuk main-main di Facebook. Saya kok nggak merasa yakin kalo remaja yang mangkal di Facebook itu memanfaatkannya dengan kebaikan. Masih ragu gitu lho. Soalnya, yang saya tahu lebih banyak dipake sekadar “hiburan” dan “main-main” saja. Mungkin ada juga yang memanfaatkan untuk dakwah misalnya, tapi jumlahnya tak sebanyak yang dipake untuk main-main. Sori ya, bukan nuduh tapi emang ada faktanya.
So, waktu 5 jam sehari main Facebook aja udah kebanyakan, apalagi yang lebih dari 5 jam sehari online terus, bisa-bisa jadi manusia online deh. Itu namanya udah sampe taraf kecanduan lho. Ati-ati jangan sampe kamu terkena Facebook Addict. Pikirin lagi sebelum berbuat, dan yang pasti, kamu tinggal lebih banyak di dunia nyata. Bukan di dunia maya dan bukan cuma di Facebook. Ok? Dunia tak seluas “update status, news feed, atau note” di Facebook. Manfaatkan waktumu dengan cara yang benar dan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan bekal di akhirat kelak. Akur ya? Harus! (ciee… saya kok jadi ngatur-ngatur gini?). Ngatur-ngatur? Kalo untuk kebaikan, kenapa nggak? Yes![]
http://www.gaulislam.com/facebook-addict
=====================================================
“Mangan ora Mangan”, Facebook!
gaulislam edisi 141/tahun ke-3 (23 Rajab 1431 H/ 5 Juli 2010)
Budayawan Umar Kayam pernah nulis buku, “Mangan ora Mangan Kumpul”. Ini memang diambil dari kultur masyarakat Jawa secara umum di masa lalu, bahwa makan tidak makan yang penting ngumpul. Artinya, dalam kondisi apapun, baik susah maupun senang tetap kumpul bersama keluarga. Makan itu simbol bahwa kita senang. Nggak makan perlambang kalo kita susah. Jadi, apapun kondisinya, sing penting ngumpul, rek!
Nah, kalo sekarang saya plesetkan jadi mangan ora mangan yang penting facebook! Hehehe… soalnya ngeliat fenomena yang ada, kok orang betah banget berintim-ria dengan facebook. Sehari nggak ketemu situs jejaring sosial ini perasaannya kok seperti nggak plong. Masih menyimpan penasaran. Meski praktiknya, sekadar ngecek status teman atau melihat apakah ada permintaan teman baru yang masuk ke akun facebook kita. Jika ada remaja yang tak bisa lepas dari facebook meskipun untuk itu dia nggak makan, berarti udah parah tingkat ketergantungannya kepada situs jejaring sosial ini.
Facebook emang bisa dijabanin kapan aja, situs itu nggak peduli orang yang mengunjungi dan bekumpul di komunitas yang difasilitasinya udah makan atau belum. Makan secara fisik dengan memasukkan makanan ke tubuh bisa jadi akan tahan beberapa saat, tapi yang tak bisa dilakukan orang yang terkena facebook addict itu adalah tahan dari tidak berinteraksi dengan sesamanya di dunia maya. Agar bisa tetap berinteraksi dengan teman-temannya di dunia tersebut, dia akan ambil jatah uang makannya untuk beli pulsa telepon agar bisa ngenet terus. Atau setidaknya nongkrong di warnet. Waduh!
Bro en Sis, karena facebook juga bisa diakses via ponsel, maka akan lebih banyak lagi pengguna yang kecanduan situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini. Nggak perlu pake komputer. Maka, kita saksikan ada tukang bakso keliling yang asik main facebook. Meski doi nggak punya komputer, online bisa tetap jalan asal punya ponsel, Bro. Ya, lagian kalo pun punya komputer pasti bakalan ribet karena harus dibawa keliling sambil jualan bakso. Tukang bakso aja tetap bisa online di facebook dengan fasilitas layanan GPRS atau 3G yang tertanam di ponsel yang dimilikinya. Hebat bener facebook, bisa mengubah cara pandang orang tentang makna pertemanan dan eksistensi diri meskipun di dunia maya.
Banyak sudah komentar dan sindiran kepada orang-orang yang “facebook addict” bertebaran di dunia maya seperti di blog dan website. Gambar-gambar yang dihadirkan lucu-lucu. Ada foto tengkorak lagi ngetik pake notebook, terus yang muncul di layar notebooknya adalah logo facebook. Foto menarik lainnya ada yang posenya orang yang sedang berhubungan seksual di balik selimut. Yang muncul di situ, ada satu tangan yang keluar dari balik selimut yang menggambarkan sedang menekan tombol enter di laptop yang berlogo facebook. Tentu, meski mungkin dalam kenyataannya di lapangan sulit dibuktikan faktanya bahwa ada yang sampai seperti itu, tapi bisa kita rasakan. Bahwa banyak orang yang tidak bisa lepas dari facebook. Mereka rela menahan lapar dan haus asalkan tetap bisa online di facebook. Waduh, jangan-jangan di bulan Ramadhan nanti banyak orang ngabuburit dengan nongkrong di facebook nih?
Facebook emang fenomenal dan mengasikkan, tapi kalo sampe kita nggak makan gara-gara facebook itu kebangetan. Bahwa facebook bisa juga ada manfaatnya memang iya, tapi kan nggak mesti berbuat konyol dan punya prinsip: mangan ora mangan, yang penting facebook. Ah, itu lebih dari kebangetan, yakni: Sungguh terlalu! (backsound: tunjukkan dengan ekspresi Bang Rhoma ya!) Hehehe..
Facebook Addict
Gila kerja, meskipun hal itu berdampak kepada bertambahnya pendapatan, tetap saja ada yang dikorbankan. Salah satunya, waktu berharga bersama keluarga. Gila belajar, meskipun ada manfaatnya, namun tetap saja ada yang diabaikan. Salah satunya, kita menjadi pribadi yang hanya fokus kepada belajar, belajar, dan belajar. Gila bola, akan menjadikan orang rela menjadi suporter fanatik sebuah klub atau timnas yang berlaga di piala dunia, misalnya. Mereka yang gila bola, rela memasang atribut timnas tertentu, memiliki koasnya, bahkan di Polman (Polewali Mandar) ada seorang pria tewas tersengat aliran listrik saat hendak memasang bambu basah—karena bambu tersebut mengenai kabel listrik bertegangan tinggi—untuk mengibarkan bendera timnas Belanda sesat setelah tim negeri kincir angin itu meremukkan Brasil di perempat final Piala Dunia 2010 lalu. Halah!
Bro en Sis, gila kerja memang ada manfaatnya, gila belajar juga tak sedikit manfaatnya. Namun bukan berarti harus terus begitu sepanjang waktu. Selain kudu menghemat tenaga untuk bisa istirahat, juga agar kita tak selalu fokus ke satu masalah. Sebab, ada waktu yang juga kita alokasikan untuk istirahat, berhubungan dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Ssst.. kalo gila belanja gimana? Wah, itu berdampak tidak baik bagi diri kita, meskipun ada manfaat bagi para penjual produk karena produknya pasti laku kalo di dunia ini banyak orang yang gila belanja.
Ngomong-ngomong soal kecanduan, ternyata nggak cuma narkoba yang bisa bikin orang kecanduan. Seks bisa bikin orang kecanduan juga lho. Kalo itu dilakukan suami-istri sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika dilakukan oleh mereka yang bukan mahrom. Kita prihatin dengan seks bebas yang kian marak dilakukan remaja dan orang dewasa yang lemah iman tapi kuat nafsunya (setidaknya kalo itu diukur dan dilihat dari PNDK alias Penulusuran Nafsu Dan Kekuatan, hehehe). Obat-obatan tertentu pun bisa bikin orang ketagihan untuk terus mengkonsumsi.
Ada ketagihan yang lain nggak? Hehehe.. ada. Ya, salah satunya ketagihan untuk online. Sebelum ada situs jejaring sosial bernama Facebook, orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk chatting, untuk kumpul-kumpul di komunitas grup diskusi. Apalagi kalo udah berselancar nyari data. Bisa data yang bermanfaat, maupun data yang tidak bermanfaat. Situs porno pun jadi tempat mangkal netter yang ketagihan cerita dan gambar erotis. Belum lagi game online. Halah makin tekun deh tuh di depan komputer!
Maniak-online juga bisa membahayakan lho, meskipun ada manfaatnya. Ya, kalo seharian online, apa nggak bosen tuh? Facebook-an seharian apa nggak pegel? Kalo sampe kamu ngerasa kehilangan facebook sehari aja, itu tandanya kamu sudah kecanduan. Uring-uringan kayak orang kebakaran kumis (bagi yang punya kumis tentunya), kalo yang nggak punya kumis, ya ibarat orang kebekaran bulu keteknya. Hihihi..
Bro en Sis, kalo sampe tiap hari kamu merasa kudu online terus di facebook, waspadalah! Sebab, bisa jadi kamu mulai terkena gejala “Facebook Addict” alias kecanduan facebook. Bawaannya liat hape pengennya langsung browsing dan yang terbayang di pikirannya logonya facebook plus teman-teman dunia maya tempat ngumpul bareng secara virtual. Pengen tahu “status” terbaru teman-teman yang ada dalam list kita. Penasaran dengan apa yang dikerjakan mereka saat ini. Geregetan pengen nyapa, pengen cari informasi, pengen komentar, pengen ngasih “jempol” tanda suka dengan statusnya. Bener lho.
Saya, pada awal-awal kenal facebook, meski nggak sampe ‘gila’, tapi sering nongkrong di situs jejaring sosial. Cuma kalo saya tertantangnya pengen mengeksplorasi apa aja fitur dan fungsinya. Diulik (bukan diulek lho!) semua fitur yang ada. Satu per satu saya cobain dan praktikkan. Setelah merasa puas, barulah jarang buka-buka lagi. Toh, cuma “gitu-gitu” aja. Saya lebih memilih memfungsikan semaksimal mungkin fitur yang cocok untuk berbagi manfaat dengan teman lainnya. Untuk update status juga perlu dipilih isinya lho. Jangan sampe cuma nyampah aja. Tapi pastikan yang bermanfaat bagi teman kita yang baca. Misalnya tentang motivasi, kutipan hadis atau ayat al-Quran, bisa juga info kegiatan positif dan sejenisnya yang memang bermanfat.
Waktu yang terbuang
Yuk, kita kalkulasikan waktu yang kita korbankan untuk ngenet dan mangkal di facebook dengan waktu kita di tempat lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, dalam sehari kita nongkrong di facebook minimal 5 jam, itu udah parah lho. Berarti dalam sebulan waktu yang habis untuk ‘bermesraan’ dengan situs jejaring sosial ini adalah (150 jam, yakni 30 hari dikali 5 jam). Silakan hitung sendiri jika dikonversi dengan duit yang kudu dikeluarkan untuk beli pulsa telepon. Juga yang terpenting, soal memanfaatkan waktunya itu lho. Waktu 5 jam itu kalo dibagi-bagi buat istirahat, belajar, dan bekerja bisa sangat berharga.
Oya, waktu yang dipake 5 jam sehari untuk facebook-an itu, baik waktu 5 jam itu secara berturut-turut atau memanfaatkan waktu di sela-sela aktivitas lain, tetap aja ada waktu yang secara khusus dialokasikan untuk main-main di facebook. Saya kok nggak merasa yakin kalo remaja yang mangkal di facebook itu memanfaatkannya dengan kebaikan. Masih ragu gitu lho. Soalnya, yang saya tahu lebih banyak dipake sekadar “hiburan” dan “main-main” saja. Mungkin ada juga yang memanfaatkan untuk dakwah misalnya, tapi jumlahnya tak sebanyak yang dipake untuk main-main. Sori ya, bukan nuduh tapi emang ada faktanya. Kalo kamu baca artikel ini nggak ngerasa sampe facebook addict, ya jangan tersinggung. Namanya juga nggak ngelakuin ya jangan ngaku. Heheh.. anggap aja dalam contoh ini adalah teman kamu. Ok?
So, waktu 5 jam sehari main facebook aja udah kebanyakan, apalagi yang lebih dari 5 jam sehari online terus, bisa-bisa jadi manusia online deh. Itu namanya udah sampe taraf kecanduan lho. Ati-ati jangan sampe kamu terkena “Facebook Addict”. Pikirin lagi sebelum berbuat, dan yang pasti, kamu tinggal lebih banyak di dunia nyata. Bukan di dunia maya dan bukan cuma di facebook. Ok? Dunia tak seluas “update status, news feed, atau note” di facebook. Manfaatkan waktumu dengan cara yang benar dan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan bekal di akhirat kelak. Akur ya? Harus! (ciee… saya kok jadi ngatur-ngatur gini?). Ngatur-ngatur? Kalo untuk kebaikan, kenapa nggak? Yes!
Manfaatkan waktu
Waktu yang kita miliki bisa jadi amat luang dan lapang, namun adakalanya kita nggak bisa memanfaatkan untuk hal-hal yang benar dan baik. Jasiem M. Badr dalam buku Efisiensi Waktu dalam Islam memberikan alternatif cara mengefisienkan waktu: Pertama, pergerakan (kegiatan) terarah. Untuk mencapainya, seseorang kudu memprogram dan menggariskan tujuan geraknya. Dan pastikan bahwa tujuan dari setiap gerak itu nggak boleh lepas dari haluan Allah. Misalnya untuk dakwah, untuk beramal shalih lainnya, untuk ibdah, bekerja dan semua yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
Kedua, bergaul dengan masyarakat. Ini juga penting, sebab waktu kita jadi lebih bermanfaat, apalagi kalo kita adalah pengemban dakwah, tanpa bergaul dengan masyarakat, alamat aktivitas kita nggak ada apa-apanya. Jadikan masyarakat itu sebagai lahan dakwah kita. Jadi gaul dong. Jangan hanya gaul dalam urusan yang nggak bener doang. Meskipun di faceboo kita juga dakwah, tapi jangan sampe dakwahnya hanya di dunia maya aja. Ok?
Ketiga, suka membantu orang lain. Keberadaan orang lain di sekitar kita jangan dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga kudu diperhitungkan. Kalo mereka membutuhkan uluran kita, ya kita kudu peduli. Sabda Rasulullah saw.: “Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat.” (HR Muslim)
Keempat, menjalani lima perkara yang disukai para sahabat, yakni selalu bergabung dengan orang-orang shaleh yang aktif, mengikuti sunnah Rasul saw., memakmurkan masjid, baca al-Quran, dan jihad fii sabilillah.
Kelima, membaca. Kata Imam Ahmad: “Kebutuhan manusia terhadap ilmu penge­tahuan itu porsinya lebih besar daripada kebutuhan makan dan minum. Kebutuhan makan dan minum dalam sehari bisa dihitung, tapi mencari ilmu adalah sebanyak tarikan napas kita. Ilmu akan menerangi jalan hidup kita.”
Jadi jangan sampe kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-Rûm [30]: 57)
So, jangan sampe hidup kita hanya diisi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya. Apalagi karena kehidupan akhirat kita hanya membutuhkan bekal sebanyak mungkin amal shalih. Bukan amal salah. Yuk, mulai sekarang tinggalkan segala aktivitas yang merugikan kita. Meski mungkin tampaknya aktivitas itu bakalan nguntungin menurut penilaian kita; popularitas, harta, kesenangan dan sebagainya. Tapi kalo itu maksiat kepada Allah, nggak ada artinya kan? Kalo aktif di facebook gimana? Manfaatkan seperlunya saja (khususnya untuk dakwah). Jangan berlebihan dan jangan sampe kecanduan mengaktifkan facebook untuk hal-hal yang miskin manfaat, apalagi maksiat. Setuju kan? [solihin: osolihin@gaulislam.com]
http://www.gaulislam.com/%E2%80%9Cmangan-ora-mangan%E2%80%9D-facebook
=========================================
Manfaatkan Waktu Hidupmu
gaulislam edisi 134/tahun ke-3 (3 Jumadits Tsaaniy 1431 H/ 17 Mei 2010)
Kawan-kawan gaulislam yang gue cintai! (jiaah masih aja sempet-sempet ngegombal? Wataw!!) Terus baca ya! To the point aja, kalian suka perhatiin kondisi anak muda zaman sekarang kan? (termasuk kalian juga—dan gue tentunya, hehe..) Coba deh cek en observasi di daerah terdekat. Hitung seberapa banyak anak muda yang aktif di pengajian? Jarang kita temui anak muda yang kritis terhadap agamanya. Waduh, kalo begini terus gimana bisa berdakwah? Huft!
Gue denger juga ada yang nyeletuk “Duh nggak usah repot-repot peduli sama gue, yang penting gue nggak nyusahin orang lain kok!” Malah pernah ada cewek yang ditanya: “Kenapa kamu nggak pake kerudung. Padahal kan kamu tahu perempuan seumur kamu wajib menutupi aurat?” Eh, dia bilang: “Aku nggak munafik kayak cewek-cewek yang pake kerudung itu. Padahal hatinya busuk. Aku sih ada apanya, eh apa adanya sesuai dengan kata hati. Nantilah kalo udah tobat baru pake..Slow ajah ah mumpung masih muda hehe..”. Halah… amit-amit gue!
Bro end Sis! Perempuan berkerudung belum tentu hatinya juga ‘berkerudung’ alias alim. Tapi kalo terus-terusan ngikutin kata hati dan hawa nafsu dijamin nggak bakalan ada usaha untuk jadi lebih baik. Gue belum jadi orang tua aja udah pusing duluan kalau-kalau nanti punya anak tantangan untuk mendidiknya pasti berat cuy. Hwach nggak kebayang! Sistem kapitalisme udah bener-bener meracuni anak bangsa! “Asal hati senang urusan yang lain what ever lah!” Musibah deh…
Bekal buat akhirat
Sobat muda muslim, jelas kita nggak dilarang buat ngejar urusan duniawi tapi kita juga wajib menomor satukan masalah akhirat. Yup, kita wajib nabung pahala. Beramal sholeh di dunia buat di akhirat kelak. Mumpung masih muda isi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang positif dan syar’i, betul?
Oya, di luar kegiatan sekolah pasti kamu punya banyak agenda. Mulai dari kursus atau ikutan bimbingan belajar, les musrik, ech musik, latihan band, olah raga dll. Kegiatan tersebut sah-sah aja dilakukan selama ngikut tuntunan syariat Islam dan nggak nyita waktu, plus bermanfaat untuk masa depan kalian (buset, banyak amat syaratnya).
Tentu bukan kegiatan miskin manfaat macam pulang sekolah terus nongkrong seharian di warung atau di depan gedung bioskop ngobrol ini itu pura-pura nunggu film dimulai. Padahal nggak nonton sama sekali. Hehe pengalaman gue ini. Hus-hus yang ini jangan dicontoh!
Jangan sampe pula kamu seharian di depan komputer en mantengin situs jejaring sosial macam facebook. Terus update statusnya yang tulisannya pake bahasa plat nomer alias nulis kata-kata dicampur pake angka. Huhu, bikin orang lain pusing bacanya. Oya, nggak baik juyga kalo sampe terus-terusan main game online. Facebook-an nggak ada salahnya tergantung kita memanfaatinnya. Contoh yang baik nih ya kalian update status dengan nasihat-nasihat yang berguna atau tulis terjemahan ayat al-Quran atau hadist untuk saling mengingatkan dalam kebaikan keren dah pastinya. Ok?
Memanfaatkan waktu
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (QS adz-Dzariyat [51]: 56)
Pernah nggak membandingkan waktu kegiatan untuk hal duniawi dengan waktu buat akhirat? Lebih banyak mana hayo? Contohnya nih, kita melaksanakan sholat fardu rata-rata butuh waktu hanya 5-10 menit. Itu juga kadang suka males-malesan apalagi sholat subuh. Terus tinggal dikurangin 24 jam (jumlah waktu dalam sehari). Nah sisanya kita ngapain aja—selain tidur dan sekolah?
Sudah semestinya (ciee.. gue jadi tua gini), kita yang masih muda harus mengisi kehidupan ini dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Betul? Jangan punya prinsip “mumpung masih muda seneng-seneng aja dulu, tobatnya belakanganlah kalau sudah tua”. Waduh, emangnya kamu tahu kapan datang ajalmu?
Bukan nggak boleh senang-senang dalam hidup. Silakan aja. Tentu dengan tujuan rekrasi atau me-refresh pikiran dan tetap dalam koridor syariat Islam. Ok?
Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kita wajib memanfaatkan waktu hidup kita dengan amalan-amalan sholeh agar tidak menyesal dan merugi nantinya. Sesuai dengan firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS al-Ashr [103]: 1-3)
Terus, bagaimana caranya supaya waktu kita bisa bermanfaat dan ngak sia-sia? Nih sedikit advice yang bisa kalian lakukan. Pertama, mulailah setiap pagi dengan berdzikir kepada Allah, niatkan semua hal yang akan kita lakukan semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Bukan untuk yang lain.
Kedua, jadwalkan semua kegiatan kita pada hari ini dengan jelas. Begitu ada waktu luang, segera isi dengan kegiatan bermanfaat, contohnya membaca buku, menkhatamkan al-Quran, membaca kitab, baca gaulislam (ehm..), dan lain sebagainya. Ketiga, manfaatkan dengan baik waktu yang memiliki keistimewaan, misalnya pada sepertiga malam kamu bisa bangun dan melaksankan sholat malam.
Ngaji aja!
Bro and Sis, meskipun sudah diniatkan untuk mengisi waktu kita dengan hal-hal yang berguna, tapi kalo nggak konsisten kadang kita terlena dengan urusan duniawi. Iya kan? Kita mudah tergoda, suka ikut-ikutan tren—meskipun trennya yang nggak bener—karena hanya pengen diakui dalam komunitas kita biar dicap gaul. Huh cape dech! Kalau begini terus kita bakalan jadi budak kapitalis, generasi pengekor kayak kerbau yang diiket idungnya supaya mau ikut kemana-kamana. (No my way dech!) Saatnya sadar dan memikirkan kehidupan kita.
BTW, ada nggak cara buat mem-protect kita dari serangan “racun dunia” sistem en budaya Barat? Well, salah satu jalannya kita wajib ngaji atau mengkaji serta aktif dalam pengajian. Ikut aja acara-acara kajian keislaman, kumpul bareng temen yang sholeh atau yang lebih paham agama. Bisa juga kita bentuk kelompok kajian Islam. Adakan pertemuan rutin sembari ngobrol bebas masalah agama, mengkaji materi keislaman yang memang kita butuhin seperti fikih, akidah, muamalah, akhlak, dakwah, syariah, dan juga khilafah. Hwach pasti seru bro!
“Bosen dan Jenuh”? Halah, itu dua kata yang pertama kali muncul di benak gue ketika diajak caplin (bukan nama sebenarnya) ikutan ngaji. Pasti ini godaan setan! Tapi setelah terjun langsung ke TKP alias ke tempat pengajian ternyata setan itu pendusta sejati! Hehe.. gue enjoy di pengajian, karena bahasannya nyantai gue bisa sharing apa aja. Ngobrolin masalah ini itu dari a ampe z, mulai dari masalah pacaran dalam Islam gue tanyain, prikitiw! Sampai masalah ideologi dan sebagainya. Yang lebih serunya lagi kadang kita ngaji di tempat terbuka atau tempat rekreasi, asikk dah! Ilmu dapat, pikiran jadi tenang perut juga kenyang khwkhwk (jadi inget waktu ngajinya abis mancing deh). Hwaaah asiknya!
Boys and gals, pokoknya buat acara pengajian senyaman mungkin dan tetap semangat aktif di pengajian serta sebagai bekal berdakwah atau menyampaikan kebaikan kepada teman yang lainnya. Rasulullah saw. Bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari a-Quran dan mengajarkannya” (HR Bukhari)
So, kamu-kamu mulai deh dari sekarang ikutan ngaji, mengkaji Islam secara kaffah atau menyeluruh, bersosialisasi dengan agama kita sendiri, satu-satunya agama yang di ridhoi Allah Swt. Dijamin bakalan lebih enteng hadapi hidup! Menjadikan kita lebih berideologi dan bangga karena punya prinsip hidup, ketimbang cuma ikuat-ikutan biar dianggap gaul. Dengan ngaji juga kita terhindar dari dosa-dosa, terjaga dari maksiat, juga punya temen yang bisa saling mengingatkan kalau kita berbuat salah dan pastinya berguna untuk dunia dan akhirat.Jangan lupa sebagai anak pengajian, sikap dan perilaku kita wajib dijaga, agar terlihat ciri khas seorang muslim sejati. Oke?
Oke deh, tetap semangat. Jangan putus dalam memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang positif dan sesuai syariat Islam. Semoga kita selalu ingat bahwa semua hal dicatat oleh Allah Swt., baik yang besar maupun yang kecil. Bijaksanalah dengan apa-apa yang dimudahkan oleh Allah. Yuk, manfaatkanlah waktu yang ada dengan kegiatan bermanfaat buat hidup kita. Jangan tertipu hawa nafsu. Siap? Yup, sampai jumpa di acara [klinik] gaulislam yang membedah buletin ini setiap pekannya. Masih inget kan semboyan khasnya: “Ngak Ngaji Ngak Trendy!” [samsi: saidansam.wordpress.com]
http://www.gaulislam.com/manfaatkan-waktu-hidupmu
=========================================================================
Nggak Virgin Nggak Ok!
gaulislam edisi 148/tahun ke-3 (13 Ramadhan 1431 H/ 23 Agustus 2010)
Sori Bro, di bulan puasa gini ane kudu nulis masalah virginitas. Sekali lagi harap dipersori ya. Soalnya ente kan juga puasa. Khawatir kalo bahas ginian jadi langsung ngerumpi deh ama temen-temen ente ngomongin soal ini, ujung-ujungnya bukan buka bersama tapi batal puasa bersama. Padahal kan kalo puasa kata temen ane nih, kudu ngomongin atau bahas seputar puasa dong. Tapi ane sih berpikirnya sederhana aja. Nggak ada larangan kok kalo kita bahas tema selain puasa meski lagi bulan Ramadhan. Iya nggak sih? Sebab, yang penting isinya ngajak kepada kebaikan, ada pesan takwanya, ada pesan sponsor dari Islam sebagai ideologi kita. Ok? Sip deh.
Tulisan di buletin gaulislam edisi ini sengaja ane pilih dengan tema virginitas. Sebabnya, sekarang banyak remaja putri yang lemah iman dan pergaulannya naudzubillah udah menganggap bahwa virginitas bukanlah hal penting. Ada sayup-sayup terdengar sampai ke meja redaksi nih, bahwa banyak remaja putri (di Bandung khususnya) yang berprinsip: “Virgin nggak ok!” Waduh, berarti itu artinya ngeledekin yang masih virgin dong ya. Makin bermasalah karena yang ngomongin adalah remaja putri yang masih duduk di bangku SMA. Naudzubillah banget deh. Wajar kalo sekarang angka aborsi meningkat, karena pergaulan bebasnya juga makin marak. Nggak heran kalo kehamilan tak diinginkan kian sering terdengar beritanya, karena banyak remaja putri yang gampangan diajak berzina. Jangan kaget kalo “keong racun’ berkeliaran karena “tokek racun”-nya juga gampang dicari. Hehehe.. sori bukan ane latah ikutan trennya si Jojo ama Sinta, tapi nih fakta emang bikin miris, Bro en Sis. Ente semua pada paham deh kayaknya.
Sobat muda muslim, mengapa banyak remaja yang tak lagi menghargai dan merasa harus peduli dengan kehormatannya? Hmm.. susah juga ane menjawab nih. Tetapi sejauh yang ane terawang, nih masalahnya ada pada banyak faktor, baik faktor internal anaknya itu sendiri, juga faktor eksternal dari keluarga, lingkungan dan pergaulannya secara umum. Problem besar dan berat, Bro. Tak semudah menggulingkan traktor.
Jaman ane sekolah dulu (duluuuu banget), sebelum internet marak dan stasiun televisi jumlahnya bejibun seperti saat ini, fakta bahwa ada pergaulan bebas sampe seks bebas sudah ada lho. Meski tak semarak sekarang. Jujur aja ane kaget baru-baru ini saat ngisi ekskul [menuliskreatif] di sebuah sekolah dasar, peserta ekskul yang cowok—tentu masih bau kencur alias belum baligh—malah lancar nyeritain kasus video mesum bin porno selebritis (nih anak sering nonton infotainment kali ye?). Seorang siswa lainnya malah dengan sangat atraktif menceritakan praktik pacaran—konon dia menceritakan itu kisah teman-temannya . Hmm.. masih SD gitu, lho. Astaghifrullah aladhim.
Bro en Sis, kasus anak SD yang nyerocos soal berita video porno dan soal pacaran itu ketika mereka ane minta menceritakan kisah apa saja yang pernah dialami atau yang berkesan dimana nantinya kisah-kisah itu bisa dijadikan sebagai bahan tulisan. Di luar dugaan mereka ternyata melahap juga informasi yang berkaitan dengan info-info yang betebaran di media massa. Waduh, berarti tugas orang tua makin berat aja nih, terutama untuk melindungi anak-anaknya agar tidak terkontaminasi dari virus liberalisme saat ini. Khususnya dari informasi yang tak layak dikonsumsinya. Sebab, gimanapun juga, hal itu akan mempengaruhi kepribadian mereka.
Internet ‘memicu’ maraknya gaul bebas
Teknologi informasi sebenarnya nggak salah-salah amat. Sebab, yang salah adalah yang menggunakannya untuk penyimpangan. Adanya internet memang bagai pisau bermata dua: untuk menunjang kebaikan, juga bisa sekaligus menjadi jalan keburukan. Bahkan sangat boleh jadi efeknya lebih dahsyat.
Teknologi internet ini juga bukan berarti steril dari informasi asusila. Apalagi kebebasan berinternet di banyak negara memang nggak dibatasi. Itu sebabnya, informasi macam pornografi juga hadir di internet. Bahkan pornografi di internet lebih parah lagi. Karena bebas diakses dan privasinya lumayan terjaga. Bisa diam di kamar, nyalakan komputer langsung konek ke internet. Bisa juga pergi ke warnet. Bisa dikunjungi kapan saja. Tentu selama servernya nggak ngadat. Meski jaraknya jauh sekalipun. Itu sebabnya, internet ini ibarat kampung besar. Situsnya ada di Amerika, tapi bisa diakses dari Bogor. Mudah, cepat, murah pula. Gambarnya bisa di-download, isi ceritanya bisa di-save. Nah lho.
Sori ye, ini bukan ngajarin atau ngasih tahu supaya melakukan kunjungan ke situs “begituan”. Sekadar ngasih info bahwa kalo berburu informasi yang bermanfaat sama cara kerjanya dengan berburu informasi sampah. Cara kerja sama, isinya yang beda. Pilihan tentu ada di tanganmu. Lengkap dengan konsekuensinya dong, Iya nggak? Cuma masalahnya, apa pantas kita sebagai Muslim jadi pelanggan tetap situs porno?
Maraknya situs porno, tentu menjadi tambang uang bagi pengusaha yang menginvestasikan duitnya di bisnis situs porno itu. Untuk pengelola situs porno yang serius, mereka memang jual-beli. Entah gambar atau video porno dari internet. Pengguna internet tentu kudu bayar.
Yup, kini teknologi itu dalam genggaman. Ponsel kini bukan sekadar untuk SMS-an dan nelepon doang, tapi sudah bisa untuk internetan. Bisa nyari teman di dunia maya melalui situs jejaring sosial, misalnya. Tentu hal ini berpeluang memberikan efek samping yang negatif.
Kalo dulu orang harus susah payah ngintip dengan mata langsung ke kamar mandi untuk melihat orang yang sedang mandi demi memuaskan nafsu seksnya, kini kamera pengintai bisa mempermudah. Bahkan saking canggihnya ponsel berkamera dan mampu merekam, kita malah bereksperimen dengan benda itu untuk membuat klip video. Termasuk video porno sekali pun. Celaka lagi jika kemudian ditransfer ke komputer via bluetooth atau kabel USB, dan selanjutnya klip porno itu, atau foto pose syuur itu, akan berseliweran di dunia maya dan bisa diakses oleh banyak orang.
Oke, nafsu mesum memang nggak berubah. Sejak dulu udah ada. Tapi kini sarana untuk mengekspresikannya udah sedemikian canggih, sehingga sangat membahayakan. Jelas, ini udah mengubah gaya hidup kita.
Sobat, tentu saja nggak semua hasil perkembangan teknologi ini buruk. Banyak juga beragam kebaikan yang bisa dicapai dan diraih berkat teknologi informasi lengkap dengan perubahan gaya hidupnya. Seperti misalnya memanfaatkan teknologi ponsel dan internet untuk berdakwah. Jelas hal itu udah mampu merevolusi cara kita berkomunikasi dalam meyampaikan dakwah dan mengubah gaya hidup kita dalam menikmati teknologi komunikasi tersebut untuk kebaikan. Tapi anehnya, mengapa lebih banyak orang bereksperimen menggunakan teknologi ini untuk hal yang buruk dan maksiat? Ah, di sinilah perlunya faktor keimanan dan akidah Islam yang kuat. Iya nggak, Bro? Yup, emang kudu kuat menahan godaan yang nyaris setiap hari kita dapatkan.
Jangan dekati zina
Allah Swt. menegaskan pengharamannya dalam firmanNya (yang artinya): “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat …” (QS al-Furqan [25]: 68-70)
Sobat, dalam kamus virgin itu bermakna keperawanan. Artinya, tak pernah melakukan seks. Dalam Encarta Dictionary Tools misalnya, virgin diartikan sebagai: somebody, especially a woman, who has never had sexual intercourse.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perawan adalah: belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; masih murni (tt anak perempuan). (KBBI, 2003, hlm. 855)
Boys and gals, dari pengertian menurut kamus tersebut, tentunya kita harus berhati-hati dengan kelamin kita. Nggak boleh diobral dan dijajal or diujicoba sebelum waktunya, yakni sebelum menikah. Pemuasan hawa nafsu melalui kelamin masing-masing hanya halal setelah adanya pernikahan di antara kalian. Kalo belum terikat pernikahan? Itu namanya perzinaan. Dosa besar. lho.
Dalam sebagian jalan (riwayat) hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi saw. bersabda: “Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berzina.” Ih, naudzubillahi min dzalik.
So, sebenarnya yang nggak ok tuh yang nggak virgin. Islam sangat menghargai kehidupan manusia. Maka, dalam kehidupan cowok-cewek ada aturannya yang jelas dan ketat. Kalo sekarang ada sebagian remaja putri yang terjun bebas mengobral keperawanannya (dan tentu saja dalam waktu yang bersamaan anak cowok udah ngobral keperjakaannya), ini udah musibah besar, Bro. Jangan sampe terjadi lebih banyak lagi yang seperti itu. Jangan punya prinsip kepalang basah sehinga teriak: “virgin nggak ok!”. Tapi sebaliknya hrus berani bilang: “nggak virgin nggak ok!” Sip deh! [solihin: osolihin@gaulislam.com]
=====================================
Ngapain Sih Kudu Dugem?
edisi 081/tahun ke-2 (16 Jumadil Awal 1430 H/11 Mei 2009)
Kamu tahu kan istilah dugem? Hehehe.. bukan dunia gembel atau duduk gembira, tapi ini akronim dari dunia gemerlap. Lho, memangnya ada ya dunia yang suram? Ah, kamu pura-pura nggak tahu deh. Ya, iyalah, kalo ada siang berarti ada malam, kalo ada cowok, berarti pasangannya cewek, kalo ada hujan berhadapannya dengan kemarau. Begitupun dengan dunia gemerlap, berarti berlawanan dengan dunia suram.
Kalo dunia gemerlap orang sepakat menyebut dunia yang penuh hura-hura, suka-suka, seneng-seneng, dan serba mudah dengan apa yang kita pengen, maka dunia suram adalah dunia yang udah bisa hidup aja untung, sehari bisa makan pun sudah alhamdulillah, pengen hiburan cukup nonton tivi tetangga atau di pos ronda, mau selimut cukup sarung kumal, mau rokok juga joinan ama temen, mau minum kopi segelas bertiga. Ya, orang sepakat “menggelari” kehidupan seperti ini dengan madesu alias masa depan suram atau dusur alias dunia suram. Lawannya tentu saja dugem, dunia gemerlap.
Bro en Sis, istilah dugem tuh sebenarnya digunakan buat ajang suka-suka, hura-hura, hamburin banyak duit. Pesertanya nggak perlu juga orang kaya, adakalanya peserta dugem adalah mereka yang dari segi ekonomi pas-pasan atau bahkan kurang mampu. Tapi ketolong sama temennya yang tajir dan seneng gaul, akhirnya jadi deh ikutan ditraktir biar bisa dugem bersama. Bagi mereka biar tekor asal nyohor. Halah, cemen banget niatnya ya?
Tapi umumnya sih mereka yang suka dugem emang dasarnya udah tajir dari segi ekonomi. Nggak kesulitan kalo soal makan. Justru yang model gini hanya kesulitan untuk nyari tempat makan yang pas dan enak menurut selera mereka. Banyak orang Jakarta makan siangnya di Bogor atau di Bandung demi mencari kepuasan selera makan. Maklumlah, jarak Jakarta-Bogor kalo lewat tol dan memacu kendaraannya rata-rata 100 km per jam nggak nyampe setengah jam udah nyampe. Tentu aja nyarinya juga yang dekat ke gerbang tol. Kalo di Bogor udah disediain tuh tempat mangkal yang pas di sepanjang Jalan Pajajaran. Kalo ke Bandung? Bukan halangan juga, wong lewat Cipularang cuma 2 jam perjalanan. Kadang nggak nyampe kalo memacu kendaraannya dengan gaya Felipe Massa. Oya, tentu yang bisa gituan pastinya para eksekutif muda atau sejenisnya. Bukan eksekusut muda hehehe…
Okelah, itu kan ngomongin para eksekutif muda yang duitnya kayak ngambil dari pohon. Kalo remaja ada nggak yang suka dugem? Ada aja. Buktinya caf?-caf? tertentu ramai pengunjungya. Ada juga anak muda seumuran kamu yang di SMA atau paling banter anak kuliahan. Maklumlah, pelajar dan mahasiswa juga manusia, punya keinginan untuk suka-suka, senang-senang, hura-hura dan jaga gengsi dengan nongkrong di tempat makan atau tempat gaul yang bikin gengsi melambung. Kalo cuma makan di tempat nasi uduk biasa atau bubur ayam yang dijual keliling pake gerobak dan kita ngetem ama temen-temen di pos ronda itu sih kebangetan karena bikin nilai gengsi kita melorot.
Sobat muda muslim, bukan soal jajanan, makanan, atau tempat nongkrong yang enak dibuat dugem, tapi dugem bisa juga soal dandanan dan gadget yang bisa nunjukkin diri ke orang-orang bahwa, “gue anak gaul, gue biasa dugem, lihat dong pakaian dan gadget gue”. Gitu kira-kira.
Maka, di tengah kemajuan jaman saat ini, kita bisa memoles penampilan diri, bisa menjual diri kita di hadapan orang lain. Lihatlah, sarana informasi untuk itu udah banyak, kamu bisa gabung di situs jejaring sosial, bikin blog yang udah disediain secara gratis, bikin website, aktif di komunitas dunia maya, aktif di klub pencinta motor modif, penggemar sepeda tua, penggemar mobil tua, dan banyak ragamnya yang lain. Kamu bisa nunjukkin eksistensi kamu di sana. Ya, selama kegiatanya bermanfaat dan tidak melanggar hukum syara silakan saja.
Cuma emang nggak berhenti di situ. Namanya juga ajang kumpul-kumpul bareng teman, apalagi satu sama lain saling pamer apa yang dimilikinya, bukan tak mungkin kalo akhirnya jadi berubah sebagai ajang lomba nunjukkin eksistensi diri yang berlebihan. Jangankan di komunitas yang masih umum sekadar menyalurkan hobi, di komunitas anak ngaji aja adakalanya pamer ilmu pengetahuan dan kualitas akhlak. Selama untuk saling memotivasi diri, nggak ada salahnya. Tapi mohon maaf aja ya, kita masih khawatir kalo akhirnya terjerumus ke dalam riya’ atau malah kebablasan jadi pamer harta demi identitas diri agar bisa eksis di komunitas gaul kita. Bukan tak mungkin kalo akhirnya dugem juga deh.
So, bagi kita, barangkali punya HP aja udah seneng bukan kepalang. Dengan begitu, komunikasi jadi lancar. Apalagi kalo kita orangnya mobile banget. Cocok. Tapi nggak bagi teman-teman kita yang ngakunya remaja dugem. Bagi mereka, fungsi saja nggak cukup. Selain bisa dipake ngobrol ngalor-ngidul, HP kudu gaul dan menghibur. Coba aja, hampir tiap bulan produk teknologi komunikasi ini perkembangannya melompat-lompat. Kita-kita mah nggak bisa ngikutin deh. Maksudnya, nggak tahan. Baru liat model yang menurut kita udah hebat, eh, bulan berikutnya udah ganti lagi dengan fitur-fiturnya yang mengoda. Jadi nggak beli-beli deh. Selain bingung milih, duitnya kagak ada, Mas. Idih?
Bisa kebayangkan, kalo tiap bulan muncul produk HP baru, itu makin bikin remaja dugem tergoda pengen gonta-ganti ponsel hingga akhirnya kudu bolak-balik ke warteg (baca: warung telepon genggam). Begitulah gaya mereka. Hmm.. apa nggak boros tuh?
Dugem juga ada klasifikasinya
Dugem alias dunia gemerlap adalah gaya hidup yang menuntut serba keren, cool, trendi dan mewah. Para pegiat dugem ini berusaha abis-abisan untuk tampil prima, khususnya di depan orang lain. Mulai dari bacaan, makanan, busana, tontonan sampai tongkrongan. Kalo bacaan biasanya majalah-majalah yang banyak memuat soal mode, gosip artis en tips bergaul dengan sesama dugemer (aktivis dugem). Ini penting, soalnya kalau seorang remaja dugem ketinggalan berita maka bakalan terlempar dari arena pergaulan para dugemer. Biasanya, yang diobrolin seputar tempat nongkrong yang baru en asyik punya (nggak termasuk WC umum, lho), gosip artis, film bioskop macam ‘Terminator Salvation’ versi teranyar dari ‘Terminator’ atau film sekuelnya The Da Vinci Code, ‘Angels and Demons’, kalau olahraga pastinya sepak bola – apalagi menjelang Final Liga Champion Eropa yang mempertemukan Manchester United, tim dengan pertahanan terkokoh sepanjang musim ini dengan Barcelona, tim dengan strategi menyerang dan tersubur musim ini–, NBA atau balapan F1 dan MotoGP. Canggihan dikit mereka bicara soal internet atau handphone keluaran paling anyar. Ngobrolnya bisa di rumah temen yang kagak bikin boring atawa bete, atau kalau lagi tajir bisa juga di caf?. Kalau di masjid kayaknya sih nggak deh, mungkin takut kualat. Hahaha…
Aha.. saya jadi inget tulisan saya jaman dulu di Majalah PERMATA, di situ saya tulis bahwa remaja dugem juga kenal klasifikasi alias pembagian golongan. Setidaknya itu yang disurvei oleh Surindo, satu badan survey nasional. Sekurangnya ada delapan segmen psikografis remaja di perkotaan, yang masing-masing mereka diberi nama (1) Remaja funky (15%), Remaja Be-Te (11,7%), Remaja Asal (8,6%), Remaja Plin-Plan (22,7%), Remaja Boring (16,8%), Remaja Ngirit (14,8%), dan Remaja Cool (10,3%). Nah, lho banyak amat klasifikasinya ya?
Dalam surveinya Surindo menyebutkan kalau sebagian segmen ini kelihatan memberi harapan. Ada kelompok remaja yang sangat berhati-hati dalam berbelanja, tak mudah tertipu, mencari informasi sebelum membeli, terencana kritis, punya rasa percaya diri, dan punya perhatian terhadap masalah-masalah sosial. Tapi, sebagian lagi terlihat cemas, ragu-ragu, tak konsisten, tak punya rencana masa depan, bahkan tak percaya orang lain sehingga tak membuka diri atau berorganisasi. Wajar kalau dalam berbelanja mereka sering tertipu (ini tipikal remaja bete).
Bahkan ada yang percaya dirinya rendah, tapi gengsinya tinggi sekali (Remaja Asal). Ada lagi yang plin-plan, pas lagi ngetren lagunya Wali terbaru, “Cari Jodoh” ikut beli kasetnya (kalo nggak kebeli ya download gratisan di internet atau copy MP3 dari komputer teman), Korn bikin lagu baru eh ikutan nembang Blind biar kelihatan gaul. Eh, Ridho Rhoma dan Sonet 2 Band ngetop dengan Menunggu, ikutan juga goyang sambil nyanyi: “Derita?hidup?yang?kualami/ Duhai?pahit?sekali/ Pada?siapa?aku?berbagi/ Kalau?bukan?padamu/ Datanglah,?kedatanganmu?kutunggu/ Telah?lama,?telah?lama?’ku?menunggu”. Dasar plin-plan!
Nah, kamu masuk klasifikasi yang mana? Moga-moga masuk kelompok yang kesembilan alias golongan RRI, Remaja Rajin Ibadah atau golongan Botak alias Bocah Takwa (hehehe..maksain banget nggak sih?)
Bikin kantong bolong
Apa sih bahayanya dugem? Yang jelas biaya hidup untuk jadi remaja dugem itu nggak kecil. Sebaliknya, justru dengan maraknya gaya hidup dugem ini, udah berapa juta uang melayang percuam. Ujungnya memang menciptakan remaja-remaja borju. Menciptakan rasa persaingan di antara mereka dengan persaingan yang nggak pada tempatnya. Iya dong. Sebab, mereka berlomba dalam dunia gemerlap. Apa nggak puas dengan apa yang dimiliki selama ini? Sehingga kudu berlomba ngadain pesta ultah di diskotik, di hotel berbintang. Atau sekadar gonta-ganti HP dengan yang highend biar bisa main facebook-an dari ponsel, bawa mobil keluaran terbaru. Hmm… itu semua harus ditukar dengan uang. Bukan daun. Sekali lagi uang. Bener-bener bikin kantong bolong deh.
Bisa kamu bayangkan, jika untuk tampil dugem, seorang remaja kudu mengeluarkan uang rata-rata 300 ribu perak seminggu. Sebulan udah 1,2 jute rupiah tuh duit menyublim untuk dugem. Kira-kira, berapa penghasilan ortunya? Atau kalo nggak punya, udah ngutang berapa tuh sama temennya? Duh, sayang banget uang segitu banyaknya cuma dipake untuk hura-hura. Coba kalo diinfakkan ke masjid atau shadaqah ke fakir miskin, udah jelas pahalanya.
Bro en Sis, fenomena ini bikin miris kita. Terus terang aja kita prihatin dan merasa kasihan sama teman-teman kita yang udah terlanjur jadi aktivis dugem. Kita khawatir, kalo nanti ada banyak remaja yang perutnya udah nggak bisa lagi menerima makanan murah, karena kebanyakan diisi makanan mahal baik produk lokal maupun produk bule, apalagi yang masih belum jelas halal-haramnya. Gawat!
So, nyata banget dugem emang bikin kantong bolong. Yup, dugem telah menciptakan remaja-remaja yang boros dan nggak menghargai rizki yang selama ini diberikan kepadanya dari Allah Swt. Kasihan banget ya?
Bikin keras hati
Kebanyakan main bareng teman yang sok gengsi dan doyan hura-hura hamburin duit, kudu hati-hati. Bisa-bisa kita jadi ikutan gaya hidupnya. Namanya juga gengsi yang diprioritaskan, nggak heran dong kalo yang dilihat selalu masalah gaya, alias penampilan. Dan untuk itu, uang yang bicara dong. Uang dan uang. Ujungnya, kita bisa jadi nggak peduli sama tetangga kanan-kiri. Tetangga sebelah kanan kita menjerit kelaparan, kita asyik dengan makanan mahal dan doyan nonton konser musik yang karcisnya untuk sekali masuk bisa mencapai harga 100 mangkuk bakso (kalo satu mangkuk bakso harganya Rp 5000, udah ketahuan berapa tuh harga karcis). Hmm… itu hanya untuk memenuhi nafsu dugem kamu aja.
Itu artinya kamu udah punya hati sekeras batu. Kamu nggak gampang terenyuh dengan penderitaan teman or tetangga kamu. Kamu masih bisa tertawa di atas penderitaan orang lain. Minimal, cuek. Sikap kayak gitu pun udah jelek banget. Iya nggak sih?
Sobat muda muslim, terus terang kita nggak abis pikir. Coba aja bayangin, waktu tanggul Situ Gintung jebol, itu kan pas lagi rame-ramenya kampanye parpol menjelang pemilu dan konser-konser musik banyak digelar, serta film-film terbaru di bioskop jadi inceran. Coba deh, warga Situ Gintung yang kena ‘tsunami kecil’ nunggu antrian untuk ditolong, eh, sebagian yang lain, dari kita-kita ini, malah rebutan dan rela antri hanya untuk dapetin karcis bioskop 21 atau tiket konser dan ikutan pesta kampanye parpol.
Apakah rasa peduli kita udah pudar ditelan jaman? Apa iya kita tega menyaksikan saudara-saudara kita yang lagi menderita? Rasanya, jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, mungkin masih tersisa setitik perasaan iba kita. Namun perasaan itu nyaris tak bisa terdeteksi, karena kalah dengan gaya hidup dugem yang emang udah nguasai dirimu. Padahal, dalam se uah riwayat dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.”(HR at-Tabrani)
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota tidak dapat istirahat dan sakit panas.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Ternyata, gegar budaya yang sala satunya muncul ‘tradisi’ dugem, bikin kita jadi cuek dengan sesama, dan doyan hura-hura. Udah gitu, karakter budaya populer yang memang bergerak begitu cepat, sangat cepatnya, sampai-sampai tanpa sadar kita diminta dengan ikhlas (baca:dipaksa) tunduk dengan logic of capital, logika proses produksi di mana hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu trek lebih tinggi memang tidak memiliki kesempatan untuk renungan-renungan yang mendalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Nah, lho.
Nah, teman-teman. Apakah kita mau mengorbankan hati nurani, keimanan dan ukhuwah kita hanya untuk mengikuti gaya hidup yang gemerlap tanpa juntrungan, apalagi melanggar syariat? Sayang banget hidup ini hanya disia-siakan. [solihin: osolihin@gaulislam.com]
http://www.gaulislam.com/ngapain-sih-kudu-dugem

Asa dan Fakta Dalam Dakwah.

(Oleh : Abu Rumaisa + Addariny)
Dakwah, bertujuan untuk…
Mengajak bukan mengejek.
Mengajar bukan menghajar.
Membina bukan menghina.
Menasehati bukan menusuk hati.
Dakwah akan lancar, dengan…
Menabur kasih bukan menguburnya.
Menggalang kekuatan bukan menggulungnya.
Menerangi kebenaran bukan memeranginya.
Menjaga hak saudara bukan menjegalnya.
Dakwah, seharusnya bisa…
Membimbing bukan membimbangkan.
Memajukan bukan memojokkan.
Menganjurkan bukan menghancurkan.
Menyadarkan bukan menidurkan.
Dakwah akan lebih berkualitas, dengan…
Tabah hadapi cobaan bukan tambah minta pujian.
Sabar lewati rintangan bukan gusar hadapi tantangan.
Mewujudkan amalan nyata bukan mengumbar kata-kata.
Menuntun mad-uw bukan menonton mereka.
Dakwah terasa indah, bila untuk…
Meneladani bukan menelanjangi.
Saling memberi bukan saling mengiri.
Menyemangati bukan menyengat mati.
Mencipta rasa damai bukan membuat massa ramai.
Dakwah terasa manis, dengan…
Menebar senyum manis bukan mengumbar wajah sinis.
Berakhlak halus bukan berakal bulus.
Berniat tulus bukan berminat fulus.
Dakwah itu upaya, untuk…
Mempertahankan akidah bukan mempertuhankan kabilah.
Menghidupkan sunnah bukan meredupkannya dengan bid’ah.
Menjadikan orang patuh bukan membuatnya jatuh.
Membuat umat sembuh bukan menjadikannya kumat dan kambuh.
***
www.addariny.wordpress.com

Ketika Dua Negeri Berseteru (bersekutu tambah mutu)

Sedih rasanya melihat dua bangsa berseteru, saling membanggakan diri dan mencaci yang lain, bahkan ada yang menyuarakan peperangan, padahal keduanya adalah negeri kaum muslimin. Lebih miris lagi, perseteruan ini didasari oleh hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukannya saling berlomba dalam kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala, bahkan sebaliknya, mereka malah saling bersaing sampai berseteru dalam hal yang tidak diridhai Allah Ta’ala. Jika demikian adanya, bagaimana mungkin umat Islam menjadi kuat dan kokoh?
Konsep Cinta dan Benci Dalam Islam
Dalam Islam dikenal konsep Al-Wala’ wal Bara’ (cinta dan benci) yang merupakan konsekuensi dari iman yang benar karena inti ajaran Islam adalah mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Konsekuensinya, seorang mukmin akan mencintai segala bentuk peribadatan dan ketaatan kepada Allah semata dan mencintai orang-orang yang melakukan demikian. Allah Ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.” (Qs. At Taubah: 71)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان
“Orang yang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna.” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
Konsekuensi lain adalah kebalikan dari itu. Seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan maksiat, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al-Mujadalah: 22)
Ringkasnya, seorang mukmin sejati mencintai orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala semata dan melakukan ketaatan kepada-Nya, baik ia berbeda suku, berbeda negara, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, berbeda martabat. Dan seorang mukmin dalam hatinya memiliki rasa benci kepada orang yang menyembah kepada selain Allah dan banyak melakukan maksiat, meskipun ia satu negara, meskipun ia satu bahasa, sama warna kulitnya, meskipun ia teman sepermainan, meskipun ia orang tuanya, anaknya, saudara atau pun keluarganya. Inilah konsep cinta dan benci dalam Islam.
Cinta dan Benci Orang Jahiliyah
Masa Jahiliyyah adalah masa sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pada saat itu dunia diliputi kebodohan terhadap agama, kesesatan, penyimpangan dan kemusyrikan (Lihat Syarh Masa’il Jahiliyyah (8), Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan). Oleh karena itu, Allah Ta’ala banyak mencap buruk orang-orang pada masa Jahiliyyah dalam Al Qur’an Al Karim. Misalnya firman Allah Ta’ala:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“(Wahai kaum wanita), hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (bersolek) sebagaimana tabarujnya orang-orang Jahiliyah yang terdahulu.” (Qs. Al Ahdzab: 33)
Oleh karena itu Islam melarang umatnya berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang Jahiliyyah.
Lalu bagaimanakah konsep cinta dan benci yang diterapkan orang-orang Jahiliyyah? Cinta dan benci mereka dibangun atas dasar kesamaan suku dan bangsa. Ketika dua suku berseteru, mereka membenci orang-orang yang masih satu suku bangsa dan membenci orang-orang yang berbeda suku bangsa. Sebagaimana diceritakan hadits:
- كنا في غزاة – قال سفيان مرة : في جيش – فكسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار ، فقال الأنصاري : يا للأنصار ، وقال المهاجري : يا للمهاجرين ، فسمع ذاك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : (ما بال دعوى جاهلية ) . قالوا : يا رسول الله ، كسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار ، فقال : (دعوها فإنها منتنة)
“Suatu ketika di Gaza, (sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku).’ Orang muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap yang demikian karena yang demikian adalah perbuatan busuk.’” (HR. Al Bukhari no.4905)
Perhatikan dengan baik hadits yang mulia ini. Muhajirin dan Anshar adalah dua kaum yang mulia yang dipuji oleh Allah Ta’ala. Namun tatkala mereka menyerukan fanatisme kesukuan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sikap tersebut adalah perangai Jahiliyah. Bagaimana lagi dengan kita?
Jangan Berpecah Belah
Perpecahan umat Islam adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Qs. Al Imran: 104)
Dan sebaliknya, Islam memerintahkan ummat-Nya untuk bersatu padu. Perintah untuk bersatu ini ditujukan kepada setiap Muslim di seluruh dunia, tidak hanya antar ummat Muslim di satu negara saja. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Qs. Al Imran: 102-103)
Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa perintah untuk bersatu ditujukan untuk setiap Muslim.
Bahkan, perpecahan diantara umat Islam adalah sumber malapetaka dan bencana. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لا تختلفوا ، فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا
“Janganlah kalian berselisih! Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” (HR. Bukhari no. 2410)
Oleh karena itu, perselisihan antar umat Islam baik yang satu negara ataupun berbeda negara adalah sumber kebinasaan. Maka, bersatulah wahai kaum muslimin di negara manapun engkau berada!
Muslim Itu Bersaudara
Seorang muslim mempersembahkan cintanya yang paling besar dan yang paling tulus kepada Allah Ta’ala. Cinta ini tidak boleh pupus oleh cinta lain. Cinta kepada Allah tidak boleh ditenggelamkan oleh cinta seseorang kepada keluarganya, bahkan kepada kedua orang tuanya. Konsekuensinya, siapapun yang mencintai Allah Ta’ala, berhak untuk kita cintai. Sebaliknya, siapapun yang mendurhakai Allah Ta’ala, layak untuk kita benci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان
“Orang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi sesuatu karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, telah sempurna imannya.” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud)
Rasa cinta kepada Allah inilah yang mengikat setiap muslim dalam lingkar persaudaraan yang mulia. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu!” (Qs. Al Hujurat: 10)
Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, berbuat baiklah kepada sesama muslim layaknya saudara!
Apakah seseorang akan membenci saudaranya? Apakah ia akan menjauhi saudaranya? Apakah ia akan menghina saudaranya? Apakah ia akan menzhalimi saudaranya? Sama sekali tidak. Maka demikianlah sepatutnya seorang muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا تحاسدوا . ولا تناجشوا ، ولا تباغضوا ، ولا تدابروا ، ولا يبع بعضكم على بيع بعض . وكونوا ، عباد الله ! إخوانا . المسلم أخو المسلم . لا يظلمه ، ولا يخذله ، ولا يحقره
“Jangan kalian saling hasad! Jangan saling mencurangi! Jangan saling membenci! Jangan saling menjauhi! jangan kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain! Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara! Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membohonginya dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim no.2564)
Berlombalah Dalam Kebaikan, Bukan Dalam Maksiat
Miris rasanya melihat umat muslim berselisih, bertengkar dan berseteru disebabkan rasa iri dan dengki dalam kemaksiatan. Mereka membangga-banggakan diri atas perkara maksiat dan saling dengki satu sama lain.
Contohnya, mereka berseteru karena musik. Padahal Allah Ta’ala tidak ridha terhadap hal tersebut. Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Qs. Luqman: 6)
Sebagian ahli tafsir, juga sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud lahwal hadits di dalam ayat ini adalah nyanyian.
Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
ليكونن من أمتي أقوام ، يستحلون الحر والحرير ، والخمر والمعازف
“Akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan zina dan sutra, serta khamr dan alat musik.” (HR. Bukhari no.5590)
Hadits ini jelas menunjukkan keharaman musik. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ridha terhadapnya. Jika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak ridha, mengapa kita malah mencintainya? Dan malah berbangga-bangga dengannya?
Wanita yang memamerkan aurat mereka, kemudian berlenggak-lenggok gemulai di depan orang banyak, sungguh mereka telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Namun hal ini malah dijadikan kebanggaan dan menjadi sebab pertikaian?
Relakah anda jika wanita-wanita tersebut adalah saudara anda, istri anda, atau anak anda? Relakah anda jika mereka kelak akan menjadi wanita-wanita yang mendapat siksaan yang sangat pedih di neraka? Sebagaimana sabda Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صنفان من أهل النار لم أرهما . قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس . ونساء كاسيات عاريات مميلات مائلات . رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة . لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها . وإن ريحها لتوجد من مسيرة كذا وكذا
“Ada dua jenis manusia penghuni neraka yang aku belum pernah melihat sebelumnya. Yang pertama yaitu orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka mencambuki orang lain. Yang kedua yaitu wanita yang berpakaian namun sebenarnya telanjang, mereka berjalan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak masuk surga, bahkan tidak mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarah yang sangat jauh.” (HR. Muslim no. 2128)
Wahai kaum muslimin, buktikan cintamu kepada Allah! Berhentilah berbangga dan berlomba dalam hal yang tidak diridhai Allah Ta’ala! Berlombalah dalam kebaikan dan ketaqwaan! Bukankah anda pernah mendengar firman Allah Ta’ala:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sungguh, yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Qs. Al Hujurat: 13)
Maka irilah kepada saudaramu yang hafal Al Qur’an, irilah kepada saudaramu yang paham ilmu agama, irilah pada saudaramu yang giat beribadah, irilah pada saudaramu yang zuhud dan qanaah. Berusahalah menandingi mereka dalam hal tersebut. Irilah jika ada negeri lain yang masyarakatnya lebih shalih, dan berusahalah menjadikan negeri kita ini lebih shalih dari negeri tersebut.
Benarkah Nasionalisme Bagian Dari Iman?
Pada sebuah kesempatan, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, seorang ulama besar dari Unaizah (salah satu daerah di negeri Saudi Arabia-ed), ditanya: Bagaimana dengan ungkapan yang banyak tersebar di masyarakat, yaitu: حب الوطن من الإيمان “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Apakah ungkapan ini adalah sebuah hadits yang shahih?
Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, menjawab: Al Ajluni dalam kitab Kasyful Khafa berkata: “Hadits ini dikatakan oleh As Shaghani sebagai hadits maudhu (palsu).” Al Ajluni juga berkata dalam kitab Al Maqashid: “Aku tidak ragu bahwa hadits ini palsu, namun maknanya benar.” Pernyataan Al Ajluni yang menyatakan bahwa makna hadits ini benar disanggah oleh Al Qaari, ia berkata: “Pernyataan ini sungguh aneh. Karena antara cinta tanah air dengan keimanan sama sekali tidak ada kaitannya.” Kemudian Al Qaari berdalil dengan ayat:
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ
“Seandainya Allah memerintahkan mereka untuk membunuh diri mereka atau memerintahkan mereka untuk keluar dari negerinya, maka mereka tidak akan patuh, kecuali sedikit orang saja.” (Qs. An Nisa: 66)
Ayat ini dalil bahwa mereka mencintai negeri mereka padahal mereka tidak memiliki iman karena yang dimaksud ‘mereka’ dalam ayat ini adalah orang-orang munafik (orang yang mengaku iman di lisan namun tidak dihatinya, pent).
Akan tetapi, sebagian ulama menyanggah Al Qaari dengan menyatakan bahwa yang dimaksud hadits ini bukanlah orang yang cinta tanah air itu pasti beriman. Melainkan maksudnya adalah bahwa ‘cinta kepada tanah air tidak menafikan iman’.
Menurutku, andaikan hadits ini shahih, bisa dibenarkan jika wathon kita artikan sebagai:
1. Surga, karena surga adalah negeri pertama bagi keturunan Adam ‘ alaihissalam.
2. Mekkah, karena Mekkah adalah Ummul Quraa (Ibu kota dari semua kota) dan kiblatnya orang alim.
3. Negeri yang baik, namun dengan syarat cinta kepada negeri dikarenakan adanya itikad untuk menyambung silaturahim, atau berbuat baik kepada penduduk negeri tersebut, misalnya kepada orang fakir dan anak yatim (bukan karena semangat nasionalisme, pent).
Sehingga pemaknaan yang benar adalah tidak menghubungkan adanya cinta tanah air dengan keimanan, juga tidak memutlakkan, namun dimaknai secara umum saja. Perhatikanlah hadits:
حسن العهد من الإيمان، وحب العرب من الإيمان
“Menepati janji adalah bagian dari iman dan mencintai bangsa Arab adalah bagian dari iman.”
Padahal orang kafir pun ada yang menepati janji dan mencintai bangsa Arab.
[Demikian penjelasan Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al 'Uqail, dikutip dari Fatawa Mawqiul Islam, fatwa no. 15]
Ulama pakar hadits abad ini, Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata dalam Silsilah Ahadits Adh Dhaifah: “Hadits ini adalah hadits palsu. As Shaghani dan ulama yang lain berkata: ‘Makna hadits ini tidak benar. Karena kecintaan kepada tanah air seperti mencintai diri sendiri, mencintai harta, dan semacamnya. Ini semua merupakan sifat-sifat manusiawi sehingga seseorang yang mencintai hal-hal tersebut tidak serta-merta dipuji. Oleh karena itu, mencintai tanah air bukan bagian dari iman. Bukankah anda melihat bahwa semua manusia memiliki sifat ini? Baik yang mu’min maupun yang kafir tanpa terkecuali.’ (Silsilah Ahadits Adh Dhaifah, 36)
Nasionalisme yang Dibenarkan Islam
Dari penjelasan-penjelasan di atas, semoga pembaca dapat memahami bahwa semangat nasionalisme tidak sesuai dengan ajaran Islam karena semangat nasionalisme mendahulukan dan mengutamakan persaudaraan antara orang-orang sebangsa daripada persaudaraan Islam. Semangat nasionalisme juga menempatkan kecintaan terhadap tanah air melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga ia rela melakukan hal yang bermanfaat bagi negerinya meskipun itu mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Namun cinta tanah air tidak selamanya keliru.
Berbicara tentang cinta tanah air, memang benar bahwa mencintai tanah kelahiran adalah hal yang manusiawi. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencintai tempat kelahiran beliau, Makkah. Sampai-sampai beliau bersabda:
ما أطيبكِ من بلد، وأحبَّكِ إليَّ، ولولا أن قومي أخرجوني منكِ ما سكنتُ غيركِ
“Wahai Makkah, tidak ada negeri yang lebih baik dan lebih kucintai dari pada engkau. Andai kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan pernah tinggal di negeri lain.” (HR. At Tirmidzi no.3926, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
Beliau mencintai Makkah bukan karena semata-mata tempat kelahiran, namun karena Makkah adalah negeri kaum muslimin, negeri tauhid yang diwariskan Ibrahim ‘Alahissalam. Oleh karena itu, beliau pun mencintai Madinah, yang juga negeri kaum muslimin, walaupun bukan tempat kelahiran beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika peristiwa hijrah ke Madinah:
اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد
“Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta terhadap Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan cinta yang lebih besar dari itu.” (HR. Bukhari no.6372)
Maka nasionalisme yang benar adalah nasionalisme yang didasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Yaitu mencintai negeri tempat kelahiran kita yang merupakan negeri kaum muslimin, karena Islam ditegakkan di dalamnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: “Tanah air dicintai jika ia merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang wajib bersemangat untuk berbuat kebaikan di negerinya, juga di negeri lain yang merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang juga wajib mengusahakan keluarga dan kerabatnya tinggal di negeri kaum muslimin.” (Fatawa Wal Maqalat Mutanawwi’ah, Juz 9, http://www.binbaz.org.sa/mat/2078 )
Selain itu, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al Uqail, semangat cinta tanah air dapat dibenarkan jika diniatkan dalam rangka ingin berbuat baik kepada masyarakatnya. Dengan kata lain, ia mencintai negerinya karena orang-orang yang ia sayangi berada di negeri tersebut, dan ia ingin berbuat baik kepada mereka. Karena memang Islam mengajarkan untuk mendahulukan orang-orang terdekat dalam berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs. At Tahrim: 5)
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيئًاۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat…” (Qs. An Nisa: 36)
Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk meninggalkan semangat nasionalisme jahiliyyah dan beralih kepada semangat nasionalisme di dasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Mari kita bersama membangun negeri kita ini dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kaum muslimin kuat dan kokoh. Mari kita dukung program-program pemerintah yang sejalan dengan nilai-nilai Islami, dan mari unggulkan negeri kita ini dalam hal kebaikan dan ketaqwaan. Kemudian, ikatlah persaudaraan yang erat antara kaum muslimin dimana pun berada, selama ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sungguh persaudaraan karena Allah itu sangat indah.
Mudah-mudahan Allah menjadikan negeri kita ini sebagai negeri yang diridhai-Nya. Semoga pada negeri ini diturunkan rahmah serta keberkahan Allah di dalamnya. Semoga Allah menjadikan penduduknya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah serta bersatu-padu menjalin persaudaraan yang kuat dan kokoh karena-Nya. Wallahul musta’an.

Pacaran? Pikir Lagi, Deh!(hari gini masih pacaran? apa kata dunia!?)


Pacaran, sepertinya telah dinobatkan oleh remaja saat ini sebagai satu-satunya ekspresi cinta kepada lawan jenis. Otomatis ikatan baku syahwat ini sedikit banyak mempengaruhi jalinan persahabatan cewek-cowok. Makin sulit ditemukan hubungan dekat remaja-remaji yang murni pertemanan. Selaluuu aja ada benih-benih cinta di hati yang tersemai tanpa mereka sadari. Nggak heran kalo banyak remaja yang terprovokasi oleh komplotan Project Pop dan Chrisye dalam hits terbaru mereka, ‘burkat’ Buruan deh katakan…. Makanya Yovie dan Nuno juga nggak tahan untuk bilang, ‘inginku…tidak hanya jadi temanmu…ataupun sekadar sahabat’. Pengenya jadi apa dong?
Pacar. Yup, status pacar yang banyak diburu kaum jomblo sebagai simbol kemenangan dan kebanggaan. Begitu pentingnya status ini hingga dijadikan ‘mata pelajaran’ rutin oleh media massa bagi para pemirsanya. Walhasil, para pelajar berseragam putih biru donker pun menjadikan tempat belajarnya sebagai Sekolah Mencari Pacar (SMP). Parah tenan iki!
Sobat, banyak remaja yang ngerasa kalo jadi pacar atau punya pacar bikin hidup terasa lebih indah. Katanya sih, mereka udah nemuin soulmate alias belahan jiwanya. Seseorang yang memanjakan perasaan cintanya; yang menjaga dan melindunginya; yang begitu perhatian dan peduli padanya; yang menyediakan a shoulder to cry on; yang mengulurkan tangannya saat salah satunya down; hingga rela berkorban untuk memenuhi permintaan sang buah hati. Pokoknya romantis abis!
Selanjutnya, hari-hari mereka lalui dengan kebersamaan. Acara jalan bareng sambil gandengan tangan atau mojok berdua untuk saling bertukar cerita jadi menu wajib. Di kampus, sekolah, mal, halte, bioskop, atau di bawah guyuran hujan nggak masalah. Kalo nggak bisa jalan bareng, minimal mengobral kata-kata cinta via SMS. Inilah penyakit orang kasmaran. Enggan berpisah walau sesaat. Bawaannya kangen mulu. Padahal doinya cuma permisi ke toilet. Waduh!
Tapi sobat, apa bener pacaran itu selamanya indah?
Banyak rugi di balik pacaran
Kalo diperhatiin sekilas, bisa jadi orang mengganggap pacaran itu nggak ada ruginya. Padahal, banyak juga lho ruginya. Makanya jangan cuma sekilas merhatiinnya. Nggak percaya? Simak deh poin-poin berikut:
1. Rugi waktu
Sobat, coba kamu iseng-iseng nanya ke temen yang pacaran, berapa banyak waktu yang dia berikan untuk pacarnya? A. satu jam B. dua jam C. satu hari D. satu minggu (kayak soal ujian aja pake multiple choice). Jawabannya: nggak ada yang cocok! Sebab ketika ikatan cinta di antara mereka diucapkan, masing-masing kudu terima konsekuensi untuk ngasih perhatian lebih buat sang pacar. Itu berarti, harus stand by alias siap setiap saat jika diperlukan doi (sopir taksi kaleee!). Ini yang bikin repot.
Gimana nggak, waktu yang kita punya nggak cuma buat ngurusin sang pacar. Emang sih teorinya nggak seekstrim itu. Biasanya mereka mencoba saling mengerti kalo kekasihnya juga punya kepentingan lain. Tapi kalo masing-masing minta dimengerti, bisa-bisa muncul sikap egois. Merasa dirinya paling penting dan paling berhak untuk diperhatikan. Ending-nya, teori dan praktek sangat jauh panggang dari api. Tetep aja mereka terpaksa ngorbanin waktu untuk sekolah, kantor, keluarga, atau teman sebaya biar doi nggak ngambek. Kalo sudah begini, demi mempertahankan pacaran, urusan lain bisa berantakan. Betul?
2. Rugi pikiran
Sehebat-hebatnya manusia mengelola alokasi pikiran dan perhatian untuk ngurusin hidupnya, belum tentu dia mampu mengendalikan rasa cintanya. Asli. Ketika kita jatuh cinta, nggak gampang kita mikirin urusan laen. Semua pikiran kita selalu mengerucut pada satu objek: Pacar. Mau ngapain aja selalu teringat padanya. Seperti kata Evi Tamala, ‘mau makan teringat padamu…. mau tidur teringat padamu…lihat cheetah teringat padamu….’ Ups! Sorry, jangan ngerasa di puji ya. Gubrak!
Nggak heran kalo sitaan pikiran yang begitu besar dalam berpacaran bisa bikin prestasi belajar menurun. Itu juga bagi yang berprestasi. Bagi yang nilainya pas-pasan, bisa-bisa kebakaran tuh nilai rapot. Mereka sulit berkonsentrasi. Meski jasadnya ada dalam kelas belum tentu pikirannya nangkep penjelasan dari guru. Yang ada, pikirannya tengah melanglang buana ke negeri khayalan bersama sang permaisuri pujaan hati. Dan nggak akan sadar sebelum spidol atau penghapus whiteboard mendarat dengan sukses di jidatnya.
3. Terbiasa nggak jujur
Lucu. Kalo kita ngeliat perilaku standar remaja yang lagi kasmaran. Di rumah dia uring-uringan karena sakit perut (tapi bukan diare lho), tapi akibat makan cabe tapi lupa makan goreng bakwannya karena saking asyiknya nonton Dora the Explorer. Sang ibu pun terpaksa telpon ke sekolah untuk minta izin. Menjelang siang, tiba-tiba pacar telpon. Nanyain kabar karena khawatir. Terus dia bilang, ‘sayang ya kamu nggak sekolah. Padahal nanti siang aku minta di antar ke toko buku terus hadirin undangan temenku yang ulang tahun di KFC…’
Tak lama berselang, keajaiban terjadi. Tiba-tiba sakitnya sembuh dan siap nganterin doi. Padahal sebelum ditelpon pacarnya, sang ibu minta tolong dibeliin minyak tanah di warung sebelah rumah, jawabnya: ‘nggak kuat jalan Bu. Kan lagi sakit’.
Ini baru contoh kecil. Seringkali orang yang pacaran secara otomatis berbohong, agar terlihat baik bin perfect di mata pacar.
4. Tekor materi
Sobat, dalam berpacaran, keberadaan materi sangat menentukan mati hidupnya itu hubungan. Meski ngakunya nggak begitu mentingin materi, tetep aja kalo nraktir bakso di kantin sekolah atau nonton hemat di twenty one kudu pake duit.
Yang bikin runyam, kebanyakan dari remaja yang berpacaran perekonomiannya sangat tergantung dengan jatah yang dikasih ortu. Pas lagi ada duit, jatah uang saku sebulan ludes dalam hitungan jam di malam minggu pertama setiap bulan. Kalo lagi nggak punya duit sementara pacar ngajak jalan, bisa nekat mereka. Nilep uang SPP atau terlibat aksi kriminal. Repot kan?
Nah sobat, ternyata pacaran tak selamanya indah. Ada juga ruginya. Banyak malah. Rasanya nggak sebanding dong kalo kita harus kehilangan waktu luang, prestasi belajar, teman sebaya atau kedekatan dengan keluarga, karena waktu, pikiran, tenaga, dan materi yang kita punya, banyak dialokasikan untuk sang pacar. Belum lagi dosa yang kita tabung selama berpacaran. Padahal pacar sendiri belum tentu bisa mengembalikan semua yang kita korbankan ketika kita kena PHK alias Putus Hubungan Kekasih. Apalagi ngasih jaminan kita selamat di akhirat. Nggak ada banget tuh. Rugi kan? Pasti, gitu lho!
Pacaran, dilarang masuk!
Sobat muda muslim, meski dalam al-Quran tidak terdapat dalil yang jelas-jelas melarang pacaran, bukan berarti aktivitas baku syahwat itu diperbolehkan. Pacaran di-black list dari perilaku seorang muslim karena aktivitasnya, bukan istilahnya.
Orang pacaran pasti berdua-duaan. Padahal mereka bukan mahram atau suami-istri. Yang kayak gini yang dilarang Rasul dalam sabdanya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)
Kehadiran pihak ketiga alias setan sering dicuekin oleh orang yang lagi pacaran. Padahal bisikannya bisa bikin mereka gelap mata bin lupa diri. Cinta suci yang diikrarkan lambat laun ber-metamorfosis menjadi cinta birahi. Ujung-ujungnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas KNPI alias Kissing, Necking, Petting, sampe Intercousing. Dari sekadar ciuman hingga hubungan badan. Naudzubillah min dzalik! Makanya Allah Swt. telah mengingatkan dalam firmanNya:
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isrâ [17]: 32)
Kalo masih ngeyel dengan peringatan Allah Swt. di atas, dijamin kesengsaraan bakal menimpa kita. Banyak kok fakta yang berbicara kalo gaya pacaran sekarang lebih didominasi oleh penyaluran hasrat seksual. Akibatnya, secara tidak langsung pacaran turut membidani lahirnya masalah aborsi, prostitusi, hingga penyebaran penyakit menular seksual. Karena itu, pacaran dilarang masuk dalam keseharian seorang muslim. Akur? Kudu!
Agar cinta nggak bikin sengsara
Sobat muda muslim, perlu dicatet kalo Islam melarang pacaran bukan berarti memasung rasa cinta kepada lawan jenis. Justeru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya tepat pada sasaran. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia dalam rangka melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab alias garis keturunan. Karena itu hanya satu penyaluran yang diridhoi Allah, dicontohkan Rasulullah, dan pastinya tepat pada sasaran. Yaitu melalui pernikahan. Rasulullah saw bersabda: “Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang sudah mempunyai bekal untuk menikah, menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat memejamkan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum mempunyai bekal untuk menikah, berpuasalah, karena puasa itu sebagai benteng baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Untuk mengendalikan rasa cinta pada diri manusia, Islam juga punya aturan maen yang meminimalisasi fakto-faktor pembangkit rasa itu. Secara umum, interaksi antara pria dan wanita dalam Islam hanya diperbolehkan dalam aktivitas yang mengharuskan kerjasama di antara mereka. Seperti ketika jual beli di pasar, berobat ke dokter, belajar di sekolah atau kampus, bekerja di kantor, dsb. Dengan catatan, ketika aktivitas di atas selesai, maka masing-masing kudu kembali kepada habitatnya. Nggak pake acara curi-curi kesempatan berduaan sehabis sekolah bubar, mau pergi ke pasar, atau pas berangkat kerja.
Kalo pas lagi ada keperluan mendesak dengan lawan jenis, kita bisa ajak teman biar nggak berduaan. Selain itu, kita juga diwajibkan menjaga pandangan biar nggak jelalatan ketika bertemu dengan lawan jenis. Sebab jika pandangan kita terkunci, sulit mengalihkannya. Seperti kata A. Rafiq, ‘lirikan matamu…. menarik hati…’ (dangdut terus neh! Tadi Evi Tamala. Hihihi..)
Nggak ketinggalan, Islam juga mewajibkan muslimahnya untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga suaranya agar tidak mendesah bin mendayu-dayu ketika berkomunikasi dengan lawan jenisnya. Sebab bisa memancing lawan jenis untuk berinteraksi lebih jauh.Wah, di sinilah perlu jaga-jaga ya.
Sobat muda muslim, selain dosa, ternyata pacaran juga banyak ruginya. Makanya kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti menikah. Nggak papa kok masih muda juga. Tapi kalo ngerasa belum mampu, kamu bisa rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau kan? Mau doooong! Siip.. dah! [hafidz]
http://osolihin.wordpress.com/2007/04/06/pacaran-pikir-lagi-deh/
=======================================================================
Yang Muda Yang Bertakwa
gaulislam edisi 105/tahun ke-3 (7 Dzulqaidah 1430 H/26 Oktober 2009)
Apa yang kamu pikirin kalo denger kalimat bahwa pemuda adalah generasi penerus bangsa? Terus apanya yang di terusin? Hehehe, siapa lagi yang akan menerusakan perjuangan dan dakwah yang sudah dilakukan para kaum tua yang telah mendahului kita? Hmm.. yang pasti anak muda dong ya. Khususnya, pemuda yang mempunyai akhlak yang baik dan tentunya memiliki ilmu pengetahuan yang luas.
Pemuda berperan penting dalam kehidupan di dunia ini. Potensi yang dimiliki sangat besar jika diasah dan disinergikan, potensi-potensi itu akan menghasilkan ledakan yang dahsyat. Tapi percuma saja kalo pemudanya bermalas-malasan (termasuk yang malas beneran), tidak bersemangat dan mudah putus asa apa lagi kalo diajak halaqah atau ngaji aja susah? Hmm, kalo begitu gimana mau jadi pemuda muslim yang ideal? Gimana mau jadi anak muda yang bertakwa?
Bro, ada orang bilang: “Yang muda yang berkarya dan jangan cuma bicara”. Hehe.. kita di gaulislam ini bukan bicara, tapi menulis. Yup, insya Allah tulisan ini sebagai wujud nyata sumbangan pemikiran dan dakwah, usaha untuk menyemangati dan mengkritisi kondisi pemuda saat ini. Prikitiw!
Sobat muda muslim, banyak perubahan besar yang terjadi dan dilakukan oleh pemuda, coba kita flashback pada masa detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia, semangat para pemuda saat itu luar biasa sampai-sampai Ir. Soekarno diculik oleh golongan pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Jangan lupa juga momentum sumpah pemuda yang bertekat untuk bersatu membangun bangsa juga dilakukan oleh pemuda. Oya, ini terlepas dari perjuangan tersebut salah dalam pandangan Islam ya. Tapi yang kita lihat pelakunya adalah pemuda.
Dalam sejarah Islam, banyak anak pemuda yang memilih dan masuk Islam. Yang termuda, Ali bin Abi Thalib berusia 8 tahun hampir sama dengan az-Zubair bin Al-Awwam, kemudian Ja’far bin Abi Thalib (18), Usman bin Affan (20), Umar bin Khattab (26). Bahkan ada yang berprestasi di usia muda, yakni Usman bin Zaid yang ketika diangkat menjadi panglima perang usianya yang masih cukup belia (18). Rasulullah saw. mengangkatnya menjadi penglima perang untuk memimpin pasukan muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi.
Ibnu Abbas ra berkomentar: “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (30-40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan ia dari kalangan pemuda.” Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala, namanya Inrahim.” (QS al-Anbiyaa [21]: 60)
Pemuda-pemuda seperti merekalah yang kita patut teladani, ilmu pengetahuan, semangat berjuang, jiwa berkorban dan ketakwaan semata-mata hanya mengharap ridho Allah dan RasulNya.
Potret buram
Saat ini kita patut bangga atas prestasi anak muda Indonesia dalam berbagai bidang. Di bidang sains, pemuda Indonesia menjuarai olimpiade internasional seperti meraih medali perak pada tahun 2008 lalu, dalam ajang Internasional Mathematics Olympiad (IMO), Internasional Biology Olympiad (IBO) dan masih banyak lagi.
Di antara segudang prestasi yang diraih nggak kalah banyak juga pemuda yang terjerumus dalam pergaulan yang salah. Budaya seks bebas yang mudah dijumpai. Hampir ada di setiap kampung maupun kota besar. Narkoba pun merajalela. Padahal pakai narkoba bukan solusi yang gentleman “nggak cowok banget dach!”. Lagian, apa nggak apda nyadar kalo banyak yang meninggal akibat OD (over dosis). Di media massa juga seperti terbiasa memberitakan tentang aborsi akibat pergaulan seks bebas. Apa mungkin si perempuan belum siap atas kehamilannya dan status buruk yang dicap kemudian menggugurkan kehamilannya. Ada juga bayi yang sudah dilahirkan sengaja dibunuh oleh ibunya. Waduh, parah banget!
Bro en Sis, nggak sedikit kasus pelajar yang putus asa karena nggak lulus ujian nasional. Mereka mengambil jalan pintas dengan melakukan bunuh diri karena merasa malu. Budaya konsumerisme dan gaya hidup mewah mungkin udah mendarah daging di kehidupan remaja perkotaan. Doktrin kapitalisme membuat mereka terperosok ke dalam nafsu individualisme dan materialisme. Ironisnya saat ada teman yang mendakwahinya, dia bilang: “Urusin aja diri elo sendiri, ngapain repot-repot ngurususin gue? Udah deh urusan kayak begini nggak usah disangkut-pautin sama masalah agama”.
Wadduh, masih untung ada yang mau peduli dengan sesama temannya. Apa jadinya dunia jika semua manusia bersikap individualistis?
Bro en Sis, sebelumnya saya nggak ingin menghakimi atau mencerca teman-teman nih. Tapi kita juga wajib kritis dan menyadarkan bahwa masih banyak remaja yang mengaku Islam tapi nggak mau mengkaji ajaran agamanya sendiri. Coba tanyakan pada anak muda yang mengaku Islam yang sedang berlalu-lalang di jalan untuk menyebutkan 12 nama bulan dalam Islam? Kmeungkinan besar banyak yang tak hapal dan terbata-bata menyebutkannya, tapi giliran ditanya bulan masehi? Anak sekolah dasar pun lancar nyerocos (tentu yang tahu hehehe), kayak busway yang lagi ngebrutss. Repot-repot tanya soal bulan hijriah coba dech tanya dulu huruf hizaiyah? Hehehe. Demokrasi mengajarkan kita untuk mengagungkan kebebasan, dan hasilnya kerusakan!
Bro en Sis, “kita jangan jadi bebek” alias mengikuti budaya Barat mulai dari cara berpakaian, hedonisme, hura-hura, pergaulan bebas terus suka mengkonsumsi narkoba. Pemuda adalah penerus bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin negara bahkan dunia. Negara pastinya hancur jika remaja tidak segera diselamatkan. Nggak percaya? Jangan dicoba!
Pemuda ideal
Solusinya hanya ada satu yaitu kembali kepada Islam yang kaffah (menyeluruh). Jangan setengah-setengah agar kita menjadi pemuda yang ideal menurut Islam. Islam adalah agama yang amat memuliakan dan memperhatikan pemuda. Dalam al-Quran ada kisah tentang Ashabul Kahfi, cerminan sekelompok pemuda yang beriman dan tegar keimannya kepada Allah Swt. Mereka berani meninggalkan kaumnya yang mayoritas menyimpang dari ajaran Allah Ta’ala dan penguasa dzalim sementara ratusan orang dibinasakan, diceburkan ke dalam parit berisi api yang bergejolak. Sekelompok pemuda itu bersembunyi ke dalam sebuah gua dan Allah Swt. menyelamatkannya dengan menidurkan mereka selama 309 tahun, Subhannallah!
Nah, gimana sih kriteria pemuda Islam yang ideal? dan sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam? Yuk, ini juga perlu jadi catatan dan tolak ukur buat kita, menurut Dr. M. Manzoor Alam (1989 : 40-43) kriteria dan sifat-sifat dasar tersebut adalah:
Pertama, percaya dan hanya menyembah kepada Allah. Firman Allah Swt. (yang artinya):“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepada anaknya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman besar.” (QS Luqman [31]: 13)
Kedua, berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua, Islam menekankan pentingnya berbuat kepada kedua orang tua dan merupakan bagian terhadap penyembahan terhadap Allah Yang Maha Kuasa. Sebagaimana dalam firman Allah Swt. (yang artinya) “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS al-Israa [17]: 23)
Ketiga, jujur dan bertanggungjawab, pemuda Islam patutnya berikhtiar untuk memanfaatkan amanah yang berupa kekayaan, kedudukan, kesehatan, tindakan, pengetahuan dan lainya (termasuk dakwah). Firman Allah Swt. (yang artinya): “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh Telah kami binasakan. dan cukuplah Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (QS al-Israa [17]: 16-17)
Keempat, persaudaraan dan kasih sayang, Pemuda Islam juga harus memiliki sifat kasih sayang antar sesamanya dan hendaknya dibarengi dengan semangat berkorban. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujuraat [49]: 10)
Kelima, yang terakhir adalah bermusyawarah, setiap individu memiliki perbedaan, agar tidak terjadi perpecahan dan kesalahpahaman dalam bermasyarakat, tentunya pemuda Islam juga harus perpegang teguh pada norma-norma permusyawarahan. Seperti yang telah diamanatkan Allah Swt. (yang artinya): “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya”. (QS Ali ’Imran [3]: 159)
Apa yang bisa kita lakukan?
Wah, indah banget deh kalau saja sifat-sifat dasar tersebut ada di dalam diri pemuda muslim saat ini, pastinya akan membawa perubahan dan kemajuan ke arah yang jauh lebih baik. Poin yang teramat penting adalah ketakwaan kita kepada Allah Swt. Jika hidup kita disibukkan dengan urusan agama Islam tentu urusan duniawi akan mengikuti dengan baik. Namun sebaliknya jika kita hanya berjibaku dengan urusan duniawi, alhasil hanya kenikmatan fatamorgana yang kita dapat, penyesalan dan kehancuran. Tentu, yang lebih mendasar adalah perkara aqkdah. Seharusnya kita lebih memahami dan menerapkan akidah yang benar.
Bro en Sis, bukan perkara sulit untuk mewujudkannya jika kita mau melakukan perubahan mulai pada diri kita sendiri. Jangan cuma bicara “Talk less do more” Hehehe. Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah berdakwah, karena merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengingatkan ke jalan yang benar dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Dakwah bisa dengan lisan dan tulisan. Kepada orang terdekat dengan kita, juga kepada yang jauh dari sekeliling kita. Jangan sampai mencela orang-orang yang berbuat salah karena itu akan membuat mereka semakin gila dalam kesalahan, jangan sampai kita berdakwah namun menganggap kita lebih mulia dan lebih berilmu dari mereka yang kita dakwahi.
Nah, pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan supaya kita menjadi pemuda yang ideal menurut Islam? Hmm.. tentunya dengan belajar sebagai langkah awal mendalami Islam yang seutuhnya kemudian segera menyampaikan ilmu yang kita dapat dan kita pahami kepada teman-teman yang lainnya dengan cara berdakwah. Oh indahnya jika semua itu bisa terwujud. Tapi, memang harus diusahakan untuk terwujud. Itulah mengapa kita wajib berdakwah. Yuk ah, moga kita makin takwa dan semangat untuk belajar Islam dan mendakwahkannya. Siap? Yes! [samsi: saidansam.wordpress.com]
http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/yang-muda-yang-bertakwa.html
===============================================================
Setelah Putus Pacaran
STUDIA Edisi 310/Tahun ke-7 (11 September 2006)
Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa? nggak boleh ikutan baca? Hehe… tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA edisi kali ini. Asyik kan?
Masa pacaran,
siapa sih yang nggak panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya. Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sih, saya yakin kamu udah pada insaf kalo pacaran tuh cuma ajang menumpuk dosa akibat baku syahwat yang melanggar syariat. Kalo masih belum yakin juga, kamu bisa baca-baca lagi file STUDIA yang lalu-lalu biar ingatanmu fresh lagi.
Nah, udah ingat lagi kan? Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang memutuskan kekasih karena insaf. Kamu yang tak mau lagi mempunyai ikatan nggak sah. Kamu yang udah nyadar dan nggak pingin mengulangi lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam benakmu.
Tiba-tiba aja nggak sengaja ketemu di angkot. Atau di tempat les bahasa Inggris. Atau bisa juga karena kamu yang lagi beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya dari benakmu. Duh… gimana menyikapi rasa ini?
Padahal kamu tahu bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana dong?
Ketika si dia hadir kembali
Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah di hatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehem…
Tenang aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, nggak terlihat. Karena nggak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya tanpa batas. Catet ye!
Bukanlah ada Yang Maha Mengetahui baik yang ghoib dan yang nyata? Ya, meski tak ada satu pun teman yang memergoki, tapi kamu pantas malu dong sama Dia. Ia Yang Maha Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski nggak terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh… sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.
Padahal sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK dia, kamu sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu nggak mau jadi teman syaitan, maka kamu pun nggak mau lagi pacaran. So, sebetulnya kamu itu udah paham kok bagaimana menyikapi pacaran. Cuma yang kamu agak nggak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.
Apalagi biasanya mereka yang sebelumnya menjadi aktivis pacaran, biasanya rentan banget untuk diajak balik oleh sang mantan. Memang sih nggak semua, cuma jaga-jaga aja kalo ternyata kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!
Hati-hati musang berbulu domba
Jangan terjebak dengan bujuk rayu dunia. Entah sang mantan ngajak balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dengan bingkai Islam. Mulutnya manisnya ngajak ta’aruf tapi aktivitasnya nggak beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman (tentu cowoknya juga dong), mau aja ia nginap berhari-hari di rumah si ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.
Meskipun sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh tuh nginap di rumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat rekerasi. Duh duh… di mana pemahaman kamu tentang hukum syara? selama ini? Or jangan-jangan kamu bolos ya waktu pembahasan topik pergaulan dalam Islam? Atau.. memang nggak paham?
Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So, biar kamu nggak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri dan pergaulan. Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan menasihati kamu bila akan salah langkah.
Kalo sudah sampe pada tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu sulit dihapus dari hati?
Pertama, mungkin saja kamu lagi krisis hati yang bermula dari kekurangdekatan kamu pada Yang Maha Membolak-balik hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan banyak melamun.
Kedua, ganti kacamata yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang terlihat begitu perfect di matamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.
Jadi bisa aja kamu begitu dengan berdarah-darah saat memutuskannya. Hehehe..biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya masih sayang sama dia dan nggak ingin pisah darinya. Tapi kesadaranmu terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah aktivitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si dia.
Ketiga, bisa jadi kamu ternyata nggak begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo ternyata si mantan nikah sama cewek lain.
Itu artinya, kamu belum benar-benar putus dan mengikhlaskan dirinya pergi. Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang dan ngajakin kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ini malah asyik berlumur maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.
Iman adakalanya bertambah dan berkurang. Ketika imanmu sedang tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah dan ikhlas melepaskannya. Tapi ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang dan ingin kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika taat kepada aturan Islam, iman berkurang tentu jika kita maksiat kepada Allah dan RasulNya. Pilih mana ayo? Orang cerdas, pilih taat syariatNya dong ya. Betul ndak?
Yakinlah pada takdirNya
Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita, adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu syariatNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu, apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada aturanNya? Kamu nggak bisa dong mengaku-aku beriman padahal belum jelas siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So. ati-ati deh.
Ada sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan untuk menerima khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan tidak mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya saja pada pembina ngajinya tentang kualitas nih ikhwan. Sumpah!
Dan tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia mendongak dan jatuh pingsan. Apakah suaminya bewajah seperti beast hingga ia shock? Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya adalah seseorang yang begitu dalam terpatri di lubuk hatinya. Kekasih yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan sang kekasih dengan dirinya lagi.
Tapi kamu jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang dan menikahiku. Waduh, kalo gitu caranya, kamu taat syariat tapi dengan pamrih tuh. Namanya nggak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal nggak bakal diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi, pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.
Karena ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih akhwat cakep banget dan di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan baik dan benar, pacar-pacarnya selalu cakep dan kaya. Setelah ngaji, ia pun memPHK pacarnya dan tak mau lagi berhubungan dengan mereka.
Dua tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu hal, kesholehannya.
Kemungkinan ini sangat bisa terjadi. Mungkin secara fisik dan harta, jodohmu tak seindah yang pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang yang kamu jadikan patokan, maka insya Allah akan barokah dunia akhirat. Dan yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan kualitas dirimu ke depan.
Aku baik-baik saja
Yakinkan dirimu dengan prinsip: “Aku akan baik-baik saja “(meski tanpa si doi). Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kenangan itu hadir kalo kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu nggak mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. Tapi, itu bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik dengan menanggalkan masa lalu yang berlumur dosa akibat menjadi aktivis pacaran.
Jangan mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzam-kan diri alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap dan kelakuan kamu masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah berjilbab dan anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga, jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.
Pancangkan tekad kuat bahwa kamu nggak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin pacaran. Kamu nggak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal sejatinya adalah maksiat. Dan supaya nggak terjatuh ke lubang yang sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pingin dapat jodoh dari sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.
Yakinlah kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu sebaliknya (coba deh kamu buka al-Quran surat an-Nuur ayat 26).
Kamu nggak usah resah dan gelisah masalah jodoh. Toh kita hidup bukan cuma ngurusi masalah satu ini kan? Selama kamu maksimal beikhtiyar dengan jalan yang baik dan benar, jodoh yang datang nanti juga nggak jauh dari kualitasmu. Yakin aja.[ria: riafariana@yahoo.com]
link: http://dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=897&cat=4
http://buletinstudia.multiply.com/journal/item/55

Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak Januari 2000, “Gaul, Syar’i, dan Mabda’i” Penerbit: Studia Publication. HP 0812-8841181. Website: http://www.dudung.net dan buletinstudia.multiply.com, e-mail: redaksi.studia@dudung.net dan studia@gmx.net Mailing List: buletin-studia@yahoogroups.com.
http://www.gaulislam.com/setelah-putus-pacaran
============================================================
Kiat Mengenal Calon Tanpa Pacaran
Karya : Kak Hadi Bin Ahmad
Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :
1.Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama. Dalam sebuah syair diungkapkan ‘ Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi”. Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya.
2.Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholat istikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Rasulullah saw bersabda : ”Kalau anda menginginkan sesuatu maka lakukan salat dua rakaat, rakaat awal setelah membaca al-Fatihah membaca al-Kafirun dan pada rakaat kedua surat al-ikhlas lalu berdoa…… ( doa istiharah).
3.Setelah memiliki kecendrungan yang kuat untuk mempersunting maka langkah selanjutnya adalah perkenalan (ta’aruf) antar keduanya secara lebih dekat yaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-norma Islam.
4.Setelah itu, maka diteruskan dengan proses berikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal ini kedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan. Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran.
5.Kenapa untuk mengenali sifat-sifat calon tidak melalui pacaran terlebih dahulu ? Karena Pernikahan yang diawali dengan pacaran dapat diibaratkan membeli buku yang dijadikan contoh(sample) dari jenis buku yang mahal. Umumnya buku yang seperti ini di toko-toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan yang bertuliskan Membuka berarti membeli ‘sehingga bagi para pembeli untuk mengenali buku tersebut secara terperinci ada dua pilihan, yaitu pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya, akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang beliannya kecuali sangat memaksa. Membeli buku seperti inilah ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran. Pilihan kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya kepada petugas melalui katalog komputer atau terlebih dahulu bertanya kepada orang yang telah memiliki dan membacanya sehingga dia memperoleh buku yang benar-benar baru belum pernah disentuh oleh siapapun termasuk pembelinya. Inilah ibarat orang yang menikah dengan tidak proses pacaran tadi.
Pada interval menanti hingga akad nikah nanti memang sering terjadi rindu kangen dan seterusnya. Rindu yang seperti ini merupakan kerinduan yang menjadi kesempurnaan sifat manusia. Kerinduan yang tidak mampu di tolak oleh manusia itu sendiri.
Imam Ibnu Qoyyim mengkatagorikan sebagai rindu yang sah-sah saja terjadi pada setiap manusia dan manusia tidak mampu memilikinya dan menolaknya, sepanjang tidak dibawa oleh kerinduan tersebut kepada ma’siat kepada Allah bahkan kita bersabar untuk menahannya maka hal itu tidak apa-apa dan itulah rindu yang karena Allah.
Tetapi jika rindu tersebut justru yang membawa kita ke jalan hawa nafsu itulah rindu karena hawa nafsu bukan karena Allah. Wallahu ‘alam
http://lixzz.blogspot.com/2010/08/karya-kak-hadi-bin-ahmad-untuk-mengenal.html
====================================================================
Ngejomblo Sehat
Nobody wants to be lonely
Nobody wants to cry
My body’s longing to hold you
so bad it hurts inside
Siapa sih yang betah ngejomblo? Nobody wants to be lonely, kata Ricky Martin dan Christina Aguleira. Ngejomblo itu garing. Alone in the crowd – sendirian di tengah keramaian Kita ngejomblo sementara teman-teman pada bawa gebetan. Manyunlah kita.
Ngejomblo, Rugi?
Itulah yang dirasakan ama Muhlis, salah seorang pejomblo yang sukses dicegat kru Sobat Muda. “Nggak enak banget,” komentarnya cepet soal statusnya yang masih jomblo. Apa sih nggak enaknya? “Nggak ada temen curhat, khususnya untuk soal-soal yang pribadi. Lebih parah lagi yang dialami Ahmad yang sekolah di SMU PGRI I, ia suka diledek teman-temannya, ”Mereka bilang ’Lontong Sayur!’ hahaha,” katanya sambil ngakak.
Lho emangnya nggak bisa dengan temen-temen? “Bisa sih, tapi kan terbatas banget topiknya,” jawabnya. Selain terbatas, Muhlis juga khawatir banget kalau temen yang diajak curhatnya kagak jujur dalam ngerespon perasaannya. Lebih serem lagi kalau mereka nggak amanah alias ember ngebocorin rahasia pribadi ke orang lain. “Bisa aja di depan kita dia keliatannya ngedukung, padahal sih cuma untuk nyenengin perasaan kita aja, atau malah ngebocorin rahasia kita.”
Wah, wah, wah, rumit juga ya ngejalanin hidup jadi jomblo. Udah sendirian kudu hati-hati juga nyari teman yang bisa diajak curhat. Sedih deh, ihik, ihik.
Menurut cowok yang bekerja jadi customer care di sebuah bank swasta di Jakarta ini perasaan nggak enak ngejomblo juga dialami teman-temannya di kantor. Ada perasaan senang saat kumpul bersama sesama pejomblo soalnya ngerasa ada teman senasib dan seperjuangan (he…he…). Mereka juga suka sama-sama curhat soal nggak asyiknya jadi jomblo. Ruginya jadi pejomblo makin kerasa kalau ada kabar teman sekantor yang married. Apalagi kalau doi umurnya lebih muda, bisa makin gigit jari.
Selain nggak ada teman curhat, kerugian lain jadi pejomblo adalah soal keteraturan hidup. Namanya juga jomblo, mau pergi ke mana en kapan aja ya suka-suka. Pulang ke rumah juga nggak ada yang nungguin. Akhirnya hidup emang kurang teratur. Dalam urusan duit juga begitu, nggak teratur. Uang sering kepake untuk urusan yang nggak jelas.
Hindari Pacaran
Untuk pejomblo seperti Muhlis, yang udah terbilang dewasa dan mapan pula, barangkali akhir masa jomblo tinggal sesaat. Sewaktu ditanya kapan mau married, dengan mantap cowok keturunan Gorontalo ini ngejawab, “As soon as possible!” Nah, nggak salah kalau doi emang lagi serius banget nyari pasangan buat diajak nikah. He…he…he…ngebet ni ye? Doi cuma mesem-mesem.
Lalu gimana buat pejomblo yang masih sekolah atawa kuliah? Mau nikah kejauhan en belum mampu, ngejomblo terus nggak enak. Serba bingung. Kalau nggak kuat iman bisa jadi kebawa kebiasaan umum; pacaran! Daripada malam Minggu bengong, alasan mereka, mendingan cari gebetan. Ya, bisa buat curhat deh atau bisa dipamerin pada temen-temen bahwa gue juga bujangan yang laku.
”Kalo punya pacar kan ada yang sayang sama kita, ada yang merhatiin kita. Hehehehe” tambahnya. Yup, pergaulan yang udah bebas khususnya bikin hubungan sebelum kawin dianggap jamak, biasa aja lagi. Tengok aja kiri-kanan kita, banyak betul temen-temen yang ngelakuin kegiatan yang satu ini. Kalau nggak tahan godaan kuping bisa panas denger cerita mereka yang udah pada punya gebetan. Yang ceweknya cakep lah, yang apel malam Minggu-nya romantislah, dll. Pacaran memang jadi jalan ‘pembunuh’ sepi bagi para pejomblo. Itulah yang dikatakan Ika yang masih duduk di bangku SMP ini, ” Sirik juga sih gua hehehe. Mereka bisa kok aku nggak bisa. Bagi yang biasa pacaran ngejomblo nggak enak Mas!”
Meski motif berpacaran juga macam-macam, ada yang emang seurieus, tapi lebih banyak lagi yang cuma iseng-iseng. Kalau cocok jalan terus sampe kawin, kalau nggak ya bubar tengah jalan. Toh nggak rugi karena belum ada komitmen, kata mereka.
Tapi apa bener pacaran itu nggak rugi? Nggak juga.
Secara materi pacaran itu pastinya pemborosan. Mereka yang berpacaran pastinya keluar banyak uang untuk ongkos, pulsa telepon, makan-makan, atau ngebeliin do’i sesuatu. Belum lagi soal perasaan dan komitmen hubungan yang nggak bisa diukur pake rupiah. Dan pastinya, pacaran itu jadi jembatan menuju perbuatan maksiat; zina! Amit-amit. Wah, kalau udah begitu mah rugi amat berpacaran.
Jomblo Sehat
Yup, jadi jomblo emang kudu pinter-pinter nyiasatin bete-nya jadi jomblo. Kalau nggak bisa kecebur dalam pergaulan yang nggak sehat. Atau bisa jadi meratapi diri yang masih menjomblo.
Selain itu juga harus bisa nyari berbagai kegiatan positif supaya hidup kita tetap sehat dan optimis, dan nggak tergoda untuk melakukan hal yang nggak-nggak semisal pacaran. Ini ada beberapa langkah yang bagus buat para pejomblo:
§ Pahami karakter cinta
Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya Fikrul Islam, cinta itu kebutuhan naluri bukan jasmani. So, seandainya nggak terpenuhi nggak akan menyebabkan gangguan kesehatan apalagi mengantarkan orang pada kematian. Dengan memahami karakter cinta kaum cowok nggak perlu grasa-grusu, resah apalagi minder karena ngejomblo. Terima aja kenyataan kita masih ngejomblo. Lagian secara psikologis kaum cowok itu nyaris nggak ada expire date-nya. Ia bisa married pada umur berapa aja. Malahan, semakin dewasa seorang cowok biasanya makin disuka. Ini beda banget dengan kaum Hawa, mereka sering dilanda kecemasan seandainya belum menikah pada usia tertentu.
Tapi itu bukan berarti ngejomblo forever itu baik dan sah. Menurut agama sengaja ngejomblo, baik untuk niat maksiat alias jadi playboy, ataupun untuk niat beribadah (tabattul) adalah haram. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada kependetaan (ruhbaniyyah) di dalam Islam”.
§ Kembangkan dirimu, guys!
Mumpung masih single, kembangkan segala kemampuan diri. Uber tuh yang namanya prestasi sekolah, habiskan waktu dengan yang namanya kegiatan belajar. Kalau masih kurang, kamu yang ngejomblo bisa ambil aneka ekstra kurikuler; olahraga, kegiatan ilmiah, sampe pengajian. Sekedar tahu aja, kalau kelak kamu udah married, nggak gampang bikin kegiatan pengembangan diri. Maklum, udah punya anak ama bini he…he… Waktu, konsentrasi dan tenaga lebih udah bercabang-cabang.
§ Cari kegiatan yang asyik
Muhlis hobi banget maen sepak bola. Katanya, selain biar sehat badan juga untuk cari kesibukan. Nah, kamu bisa cari aneka kegiatan yang asyik. Daripada jalan-jalan ke mall, atau ngelamun mendingan bikin acara yang positif.
§ Nggak usah minder
Jangan terprovokasi dengan sebutan banci atau kagak laku gara-gara masih ngejomblo. Juga nggak usah panas ati ngeliat temen-temen udah pada punya pacar. Kalem aja. Toh, kamu nggak ngerjain sesuatu yang haram. Seseorang pantas minder kalau berbuat sesuatu yang memalukan menurut syara’, bukan apa kata orang.
§ Jangan banyak ngelamun
Penyakit akut para pejomblo adalah ngelamun, berpikir kalo dirinya adalah unlucky guy. Boys, ngelamun hanya akan menambah penderitaan. Mendingan berpikir positif, bahwa dengan keadaan kayak sekarang kamu bisa nyetak banyak prestasi dan pengembangan diri. Ketimbang ngelamun cari deh kegiatan lain. Sama beracunnya dengan ngelamun adalah ngerumpiin cewek atawa akhwat dengan sesama pejomblo. Wah, itu sih udah bisa kebilang ghibah. Lagian, cuma bikin ati panas, nafsu gede, sementara nggak bisa ngejangkau.
§ Jangan goda diri sendiri
Banyak pejomblo yang senang menggoda diri sendiri. Mereka datang ke tempat-tempat yang di sana ada kaum akhwatnya. Istilah seorang kawan, “berburu jilbab”. Entah itu di pesta pernikahan, pengajian bahkan sampai acara-acara unjuk rasa. Ampun! Boys, itu hanya ngerusak pikiran, hati dan juga amal kita. Tentu saja nggak semua pejomblo kayak begitu, ini sih sekedar ngingetin aja.
Terakhir, banyakin ibadah terutama berdoa pada Allah agar dijauhkan dari perbuatan maksiat. Selain juga minta padanya agar suatu saat dijodohkan dengan orang yang baik agamanya dan dunianya. Amin! Simak aja deh lagunya Puff Daddy dan Usher di bawah ini:
I need a girl
to be my wife
Hidup Teratur Boyz!
Salah satu penyakit kaum jomblo adalah hidup kagak teratur. Jadual kegiatan sampai urusan makan sering berantakan. Ada yang beralasan idup baru teratur setelah married. Hmm, itu ada benarnya tapi bukan berarti sama sekali pejomblo itu nggak bisa teratur. Kamu kudu coba, insya Allah hidup terasa sehat, nikmat dan nikmat. Coba deh tips-tips di bawah ini:
1. Bangun pagi-pagi. Cobalah bangun sebelum azan subuh berkumandang. Mandi, berwudlu dan shalat berjamaah.
2. Baca Al Qur’an. Kalau sempat tingkatkan jumlah hapalan.
3. Pelajari kegiatan hari ini. Ada baiknya jadual kegiatan sudah ditulis pada malam sebelumnya. So, pagi-pagi kamu tinggak menceknya saja.
4. Dalami pelajaran untuk hari ini. Penting banget lho biar nggak cengo’ di kelas. Bisa kamu kerjakan sambil denger berita di tivi atau di radio, atau oke juga sambil denger musik.
5. Sarapan. Meski sedikit tapi vital banget biar badan nggak lemes sampai siang hari.
6. Berangkat sekolah, kuliah atau kerja.
7. Pulang ke rumah. Bukan berarti jalan-jalan itu nggak boleh, tapi jangan sampai keasyikan sampai lupa waktu. Ingat, besok kegiatan kamu juga sama padatnya.
8. Kumpul dengan keluarga. Yang sering dilupa oleh para jomblo adalah kumpul bareng keluarga, umumnya mereka lebih seneng jalan bareng temen ketimbang ama keluarga. Cobain deh ngerumpi bareng keluarga. Selain menambah kedekatan juga banyak masukan yang baik untuk kita.
================================================================
Zina Dalam Label “Pacaran”
Karya : Erwin Arianto
Sedih dan mengenaskan dua kata yang saya pilih saat saya bertemu dengan seorang sahabat yang ternyata hamil diluarnikah, oleh seorang kekasihnya yang tidak bertanggung jawab, seperti sebuah tayangan di sinetron ditelevisi, sudah menjadi sebuah kisah nyata yang ada pada masyarakat, hal ini adalah salah satu hasil Televisi dan tayangan media lain dalam merusak budaya yang ada pada masyarkat.
Saat ini cinta yang identik dengan pacaran adalah hal yang lumrah, hal ini dapat di lihat dalam beberpaa sinetron di televisi, bahkan anak SD pun sudah ditayangkan dalam hal pacara/percintaan. Apa yang dilakukan oleh orang yang berpacaran? secara kasat mata orang itu akan berpegangan tangan, lalu apa sih pacaran itu Pacaran diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas dari definisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu yang wajar dilakukan dikalangan kita saat ini.
Terlepas dari tujuan Awal mungkin tujuan dari pacaran adalah untuk saling mengenal,untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, tapi pada tingkatan tertentu pacaran bisa jadi sebagai pelampiasan hawa nafsu bagi dua insan yang berbeda jenis. coba telaah dari beberapa kasus pacaran berapa persen yang memang pengenalan menuju pernikahan? jawabannya adalah sangat sedikit sekali, apakah benar yang sudah pacaran lama akan jadi dan menikah? jawabanya adalah tidak.Ketika kita pacaran, resiko yang kita dapat adalah patah hati, sakit hati, dan kita mendekati zina (bagaimana tidak kalau pacaran kemungkinan besar kita akan berpegangan tangan, Berciuman, atau bahkan melakukan zina/Bersetubuh)
fenomena hamil di luar nikah begitu marak, dan masyarakat pun sudah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang biasa. Di mana-mana ada pemilu (pengantin hamil dahulu). Ironisnya, maksiat ini banyak dilakukan umat Islam, padahal Islam mengajarkan umatnya agar jangan mendekati zina… tapi kenapa hal ini bisa terjadi karena masyarakat tidak menjalankan islam secara menyeluruh, dan hasilnya Zina dan pacaran menjadi hal yang wajar dan biasa di mata umat islam dan penduduk indonesia pada umumnya.
Inilah dampak kebebasan yang begitu diagung-agungkan, begitu banyak Media Televisi,Majalah,Koran,DVD, FIlm, Internet yang menayangakan informasi yang salah, dan ini salah satu dampak kehancuran budaya bangsa akibat tayangan TV yang tidak bermoral. hal ini dapat kita lihat dari perubahan pandangan di masyarakat terjadi Perubahan nilai atau cara pandang terhadap pergaulan antar lawan jenis pun berubah. Kalau dulu, pacaran atau bermesraan di depan umum dianggap tabu, kini hal itu dianggap biasa. Jangankan bersentuhan atau sekadar berciuman, yang lebih dari itu pun dilakukan, dengan tanpa rasa malu! Naudzubillah min jalik…
Banyak kasus, karena hubungan pacaran yang terlalu bebas, dua insan yang dimabuk cinta.saat Hawa nafsu telah membius mereka, maka zina terjadi. Allah telah melarang mendekati zina apalagi kita berbuat zina, karena kalau kita telaah secara nalar dan akal, konsekuensi dari berbuat zina adalah sungguh berat dan membuat cemoohan dan siksa batin yang berat.
Bagi seorang gadis yang hamil di luar nikah karena zina, seringkali menyisakan rasa malu yang dalam. Gara-gara hamil di luar nikah, sekolah terpaksa kandas. Dan semua orang tahu, kini ia tidak gadis lagi. Duh, malu …rasanya! Tambah malu lagi, bila sang pacar tidak mau mengakui atau bertanggung jawab atas perbuatannya. Bila begini jadinya, rasanya, habislah sudah masa depannya. Penyesalan pun selalu datang terlambat. maukah anda atau keluarga kita mengalami hal ini..? pasti tidak mau kan, tapi mengapa kita membiarkan saudara, anak kita mendekati zina?
Tidak kah juga kita fikirkan saat kita berbuat kenikmatan sesaat sebuah konsekuensi lainya, kemarahan dan aib orang tua, rasa malu seorang anak yang ada karena perbuatan zina, jika kelak ia tahu, bahwa ia lahir ke dunia ini disebabkan perbuatan yang memalukan. zina adalah perbuatan yang sepantasnya hanya dilakukan binatang.
Normalnya, dalam pernikahan, kehadiran anak dianggap sebagai anugrah yang tak ternilai harganya. Tapi, bila anak terlahir dari hubungan di luar nikah, maka ia pun dianggap sebagai aib. Tak jarang, sebelum ia lahir ke dunia, orangtuanya berusaha menggugurkannya. Setelah lahir pun, seringkali ia hanya dibuang begitu saja, seperti sampah yang tak berharga. dan sebuah dosa lain akan tercipta disini yaitu sebuah pembunuhan sebuah nyawa. Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya.
Jika wanita yang berzina hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa . Jika dia ialah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan kecurangan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disedari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.
Terlepas dari sah atau tidaknya pernikahan MBA biasanya tidak akan membawa kebahagiaan yang langgeng dalam rumah tangga. Sebab pernikahan sudah kehilangan makna, tidak sakral lagi. Tak ada ‘malam pertama’ yang indah nan penuh kejutan. Karena semua dirasakan sebelum menikah. Mungkin, yang ada justru kejenuhan, penyesalan dan keterpaksaan. Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merosakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang berpanjangan bukan sahaja kepada pelakunya malah kepada seluruh keluarganya. Penzina yang berani melakukan maksiat ini dengan terang-terangan lebih buruk daripada mereka yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Jadi masihkah kita mau mendekati zina,atau dengan kata lain “bercinta” kalau konsekuensi logis dari pacaran atau zina bila yang kita dapat adalah sebuah kenikmatan semu? mau kah kita menjaga keluarga kita dari ancaman zina yang membius dan mengancam dari berbagai pihak. Semoga tidak ada lagi perbuatan haram yang memang berakibat buruk bagi kita semua.
“Terbius zina sesaat, Sesal kita selamanya”
Depok 2 juni 2008
Erwin Arianto
http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/06/zina-dalam-label-pacaran.htm
tentang-pernikahan.com –
=======================================================================
Yang Jauh Dinanti Yang Datang Ditepis
Akhlaq bagus, berpendidikan tinggi, wawasan luas, berwajah tampan pula. Belum lagi didukung dengan kemapanan ekonomi yang bisa terlihat dari kendaraan dan rumah pribadinya. Meski demikian, kerendahan hatinya yang begitu menonjol menjadikannya begitu bersahaja. Tidak sombong dan justru sangat dermawan, dekat dengan segala golongan tidak memandang status dan membeda-bedakan orang berdasarkan kelas-kelas ekonomi. Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mampu menunjukkan bakat kepemimpinan yang mumpuni. Bermimpikah bila ada gadis muslimah yang mendambakan seorang pendamping dengan kriteria diatas? Atau bolehkah memimpikannya?
Tentu saja, setiap orang -laki-laki maupun wanita- berhak menentukan kriteria orang yang akan dijadikan calon pendampingnya kelak. Karena, seperti yang dicita-citakan hampir semua wanita, cukup satu kali menikah untuk seumur hidup meski terkadang ada sebagian yang harus menerima kenyataan menikah untuk kesekian kalinya karena alasan-alasan tertentu. Terlebih bagi mereka yang memang diberikan kemurahan-Nya memiliki kualitas lebih dari yang lain, entah karena paras cantiknya, jenjang pendidikan, tingkat kemapanan ekonomi, lingkungan dan pergaulan, atau karena kelebihan-kelebihan lainnya, mereka yang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki itu tentu saja lebih merasa berhak untuk mematok kriteria tinggi untuk seorang calon pendamping. Setidaknya, pikir mereka, “peluangnya lebih besar” meski harus disadari bahwa segala sesuatu yang bakal berlaku dalam hidup ini, tentu saja Allah penentu akhirnya.
Cantik, masih muda (dibawah 23 tahun atau masih berstatus mahasiswi), bukan hal aneh jika dikala ini masih cenderung membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya untuk kemudian menentukan yang lebih baik. Bahkan bukan tidak mungkin masih menantikan hadirnya calon lain disamping yang sedang dibandingkannya. “Siapa tahu, yang datang kemudian lebih oke” pikirnya. Diusia seperti, ini idealisme seorang masih sangat tinggi sehingga, tidaklah heran jika ada orang yang membuat ‘joke’, salah satu kesibukan mereka adalah “sibuk nolak” terlebih terhadap laki-laki yang memang dianggap bukan kelasnya. Padahal yang ditolak itu sebenarnya juga “nggak rendah-rendah amat kualitasnya”, mungkin hanya kurang menarik, atau karena belum mempunyai pekerjaan mapan. Ada juga, alasan-alasan yang tidak masuk akal semisal perbedaan suku. Namun sudah pasti, ini tidak berlaku umum, karena buktinya, banyak juga mereka yang menikah diusia ini dengan menafikan hal-hal seperti wajah atau kemapanan ekonomi.
Sedikit diatas mereka (usia sekitar 25 tahun), baik mereka yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagian yang lain yang sudah mendapatkan pekerjaan, mungkin saja kondisi tersebut mempertinggi ‘daya tawar’ mereka, namun justru pada usia ini pola pikir mereka tentang masa depan sudah mulai terbentuk dan punya arah yang lebih jelas. Pandangannya tentang calon pendamping tidak mutlak pada sisi fisiologis (tampan, berduit). Kalaupun ada pandangan ke arah tersebut, kadarnya pun tidak terlalu tinggi, setidaknya mereka juga lebih objektif mengukur dengan kualitas diri untuk disesuaikan dengan kriteria calon yang diharapkan.
Lain halnya dengan mereka yang sudah mendekati ‘kepala tiga’. Meski tidak bisa dipukul rata, namun tidak sedikit yang ‘banting harga’ di usia ini. Mereka yang ketika masih menjadi mahasiswi atau usia tidak lebih dari seperempat abad seringkali menampik kesempatan, menepis yang datang karena tingginya ‘idealisme’ dan patokan kriteria yang ditancapkan, mulai menurunkan kriteria calon, “Asal baik, sholatnya bener okelah”. Bahkan diusia kepala tiga, ada saja yang lebih gila-gilaan soal jodoh yang bisa terlihat dari ungkapan-ungkapan seperti, “asal ada yang mau”, “nunggu yang sholeh bener nggak datang-datang, yang ada ini juga bolehlah,” atau yang lebih ekstrim, “syukur ada yang mau”.
Patutlah menaruh hormat kepada para muslimah yang diusia kepala tiga atau lebih, tetap konsisten dengan mematok standar yang cukup realitis, Akhlak bagus (shaleh), jujur, amanah dan bertanggungjawab, berpenghasilan, serta memiliki jiwa pemimpin. Mereka tetap yakin bahwa Allah, dengan kerahasiaan-Nya sudah mengatur segala hal yang berkenaan dengan dirinya. Dengan tetap berkeyakinan seperti itu, kepercayaan dirinya mampu mengalahkan keresahan dan kegalauan yang terkadang muncul, “Hanya soal waktu, disinilah diuji kesabaran”, “Mungkin Allah mentakdirkan untuk lebih lama hidup sendiri” hiburnya. Ada pula wanita-wanita yang karena alasan tertentu sengaja menunda pernikahan. Mereka tidak pernah menyesal terlambat menikah, atau menyesal telah menepis sekian banyak pemuda baik-baik yang datang kepadanya. Mereka, tetap tegar menatap hidup merengkuh masa depan yang menanti.
Namun bagi yang ‘masih muda dan belum terlambat’, tiada salahnya juga untuk tidak segera menepis datangnya calon pendamping hanya karena kriterianya sedikit dibawah standar, karena siapa tahu -Maha Suci Allah dengan segala kerahasiaan-Nya- dialah yang sengaja dikirimkan Allah untuk anda. Karena juga belum tentu, pujaan hati dengan label tinggi yang selama ini dinanti segera datang, bahkan bisa jadi masih jauh. Who knows? Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)